× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bank DBS Dukung Wirausaha Sosial di Indonesia

By Redaksi

Era milenial di Indonesia banyak memunculkan fenomena menarik. Dengan bantuan teknologi, seseorang bisa menjadi sangat privasi dalam berinteraksi sosial. Di sisi lain, dalam berkegiatan wirausaha, seseorang bisa menjadi social entrepreuner atau wirausaha sosial.

Wirausaha sosial melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar(1).  Sebagai bagian dari program Corporate Social Responsilities (CSR), Bank DBS salah satu bank terkemuka dari Singapura mendorong pertumbuhan wirausaha sosial di Indonesia. Mona Monika, Executive Director dari Head of Group Strategic Marketing and Communications DBS Bank, mengatakan, sebagai institusi yang berperan membangun perekonomian negara dimana DBS Bank beroperasi, pihaknya mendorong pertumbuhan dunia wirausaha termasuk wirausaha sosial.

“Wirausaha adalah pondasi ekonomi negara,” tegas Mona. Sehingga perlu didukung agar tumbuh berkembang untuk memperkuat pondasi tersebut. Ber-tagline: Championing Social Entrepreneurs in Indonesia, Bank DBS punya 3 level program besar untuk mendorong wirausaha sosial agar maju. Yang pertama adalah Advocate, lalu Nurture, dan Integrate.

Advocate yaitu: menumbuhkan awareness bisnis dengan dengan misi sosial yang bisa ditumbuhkembangkan. Nurture: Mendukung wirausaha sosial terpilih dengan permodalan, menyiapkan kesempatan, untuk bisnis yangberkembang. Integrate artinya menanamkan kekuatan DBS untuk kebaikan dalam kultur DBS dan operasionalnya.

Pada tataran teknisnya, level program tersebut dapat diuraikan lebih lanjut. Advocate secara program teknisnya terdiri dari Social Venture Challenge Asia, DBS Indonesia Social Enterprise Meet-Up, Social Enterprise Online Bazaar, DBS Foundation Facebook Fanpage, Social Enterprise handbook “Berani jadi Wirausaha Sosial, sampai DBS Fundation Insights Video.

Dalam konteks Nurture program yang dilakukan diantaranya: DBS Foundation Social Enterprise Bootcamp, DBS Foundation Grant, lalu DBS50 Social Enterprise Mentoring Program. Lalu terkait Integrate program turunannya adalah Social Enterprise Summit, dan Procurement with Social Enterprise (SE Products).

“Program di Indonesia sudah dimulai sejak 2014,” cetus Mona. Namun, untuk foundation-nya, baru setahun kemudian pada 2015. Untuk di advocate level (Mona menyebutnya awareness level), Bank DBS berupaya menstimulasi bukan hanya jadi wirausaha sosial namun juga berbelanja dari bisnis tersebut. Di level selanjutnya, nurture, pihaknya ujar Mona, mencoba bantu secara institusi. Terutama menghadapi tantangan di dunia wirausaha sosial dengan memberikan solusi agar bisnis yang dikelola wirausaha sosial terpilih berkembang dengan cash flow yang sehat.

Untuk yang integrate, pihak DBS berupaya mengintegrasikan dalam operasional. Contohnya, “Bila kantor perlu cinderamata, kami bakal cek ke wirausaha sosial binaan dulu, sanggup apa tidak menyediakannya,”papar Mona. Apabila sanggup, ada sistem internal DBS yang tak perlu lewat prosedur “pitching”.  Padahal jika bekerjasama dengan vendor lain, mesti ada pitching karena nantinya ada mekanisme audit pada DBS.

Ada kelemahan yang biasanya melekat pada wirausaha sosial baru. “Mereka biasanya hanya fokus pada tujuan sosial,” ungkap Mona. Padahal, untuk mencapai tujuan sosial tersebut, wirausaha sosial mesti fokus pada bisnisnya juga. Dengan kata lain, keduanya harus berjalan beriringan. Tugas DBS tentunya membina dan mengarahkan agar wirausaha sosial tersebut tetap on the track. Pihak DBS juga membantu social enterprise (SE) ini dalam menemukan pasar.  Jika menyelenggarakan event pertemuan dengan klien, para SE ini diundang hadir di lokasi dengan membawa produknya.

Dalam level advocate (awareness), DBS per tahun punya program SE meet-up. Event ini mengundang siapapun yang ingin tahu soal SE, yang belum punya SE, baru buka SE, atau yang sudah berjalan. SE meet-up diselenggarakan 4 kali setahun atau per 3 bulan.  Sementara untuk bootcamp di level nurture peserta yang ikut lebih tertutup dan dipilih. Selama 6 bulan mereka bakal mengikuti program intensif pembinaan. Dipandu dan didampingi oleh business coach dan social business coach yang berpengalaman. Peserta bootcamp minimal sudah menjalankan SE  selama 2 tahun dan sudah punya cash-flow. Hanya yang memenuhi persyaratan saja – setelah presentasi di depan dewan para coach – yang bakal lolos sebagai peserta.

DBS pun punya program dana hibah. Mekanismenya lewat pendaftaran dan proses pitching di kantor pusat di Singapura. Yang terpilih lewat penilaian tim adalah yang berhak menerima dana hibah tersebut. Dana hibah ini dimulai dari Ideation level (baru tahap Riset & Development), lalu Organizational level. Dana hibah untuk Ideation level senilai maksimal USD 50.000, sementara Organizational level maksimal USD 250.000.

“Tahun lalu ada 4 SE dari Indonesia yang mendapat dana hibah,”cetus Mona. Padahal, menurut Mona, di tahun sebelumnya hanya satu SE asal Indonesia saja. Dana hibah ini berlaku secara internasional di berbagai negara dimana DBS beroperasi. Tak ada kuota per negara.

“Hanya SE yang terbaik lah dari negara manapun yang berhak mendapat dana hibah ini,”pungkas Mona.

 

(1)Karen Braun, Social Entrepreneurship: Perspectives on an Academic Discipline. Theory in Action, Vol. 2, No. 2, April 2009.

*Artikel ini bersumber dari ajang Public Relations Indonesia Award 2019 (PRIA 2019), 4 Maret 2019.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]