× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Bahaya, Suhu di Kutub Selatan Menghangat 3 Kali Lebih Cepat!

By Redaksi
Ilustrasi Kutub Selatan. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Kondisi kutub selatan ternyata kian mengkhawatirkan. Sebabnya, suhu di sana kian menghangat. Bahkan, kawasan terisolir ini mengalami 3 kali lebih lebih cepat kenaikan suhunya dibandingkan kawasan lain di bumi. Para ahli mengaitkannya dengan aktivitas buruk manusia yang memicu perubahan ini.

Kyle Clem, peneliti di bidang ilmu perubahan iklim melaporkannya dalam artikel yang dimuat The Guardian. “Para mahasiswa dan aku berdebat soal tren kenaikan suhu ini yang bukan disebabkan kejadian alamiah biasa,” tulisnya. “Dampak dari aktivitas manusia dan pengaruh alam yang terjadi pada iklim di Antartika menjadikan suhu kutub selatan mengalami penghangatan yang paling ekstrim di bumi.”

Karena daratan lapisan es seluas 5,4 juta mil persegi, sehingga lebih banyak dipengaruhi oleh variabel suhu. Ilmuwan sudah meriset suhu ini sejak 1954 di Kutub Selatan, tepatnya di sebuah stasiun observasi bernama Amundsen-Scott South Pole Station. The Guardian yang dikutip inhabitat melansir, di Antartika wilayah Kutub Selatan, spot terdingin di muka bumi, rata-rata temperatur bisa mencapai – 60°C di musim dingin dan naik – 20°C di musim panas. Clem dan timnya mengamati suhu yang terjadi selama 30 tahun terakhir. Mereka menyimpulkan, antara 1989 dan 2018, suhu di Kutub Selatan naik hingga 1,8°C. Bahkan sejak 2000, level kenaikannya disebut lebih cepat.

Para ilmuwan baru mengetahui bahwa suhu cuaca di wilayah Semenanjung Antartika dan Antartika Barat kian menghangat. Di sisi lain, Esperanza, stasiun pengamatan milik Argentina di ujung utara Semenanjung Antartika, menyatakan, pada Februari lalu, suhu yang tercatat mencapai 64,9°F atau setara 18,2°C.  Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk lebih fokus mengamati dampaknya di pedalaman pegunungan es.

Clem dan timnya menganalisis lebih dari 200 model simulasi untuk mengukur pengaruh (akitivitas) manusia pada perubahan iklim. “Model (simulasi)  iklim ini memperlihatkan, bagaimana akhir-akhir ini terjadi peningkatan emisi gas dari efek rumah kaca yang diyakini turut mengatrol suhu 1°C daritotal 1,8°C dari menghangatnya suhu di Kutub Selatan,” tulis Clem dalam artikelnya.

Cuaca badai dan tekanan udara rendah di Semenanjung Antartika di Laut Wedell, juga sebagian penyebab naiknya suhu di sana. Namun, kombinasi cuaca dan gas rumah kaca menjadikannya kian mengkhawatirkan. “Pemanasan yang terjadi betul-betul bukan dari pengaruh alam, meskipun tidak menutup kemungkinan,” imbuh Clem dalam tulisannya.  

Diketahui, suhu menghangat yang terjadi di kedua kutub bumi, akan melelehkan es yang pada akhirnya menaikkan tinggi permukaan laut. Dampak perubahan ini akan sangat menakutkan. Mulai dari bumi yang semakin panas, cuaca di bumi yang makin kacau, daratan terancam menghilang, virus purba yang menyebar karena tak lagi tertanam di bawah permukan es, kemunculan gempa besar, dan punahnya hewan kutub.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]