× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bahaya! Khasiat Obat Antibiotik Terancam

By Redaksi
Seminar Media Resistensi Antibiotik. Foto : YOP

Siapa yang tak kenal dengan jenis obat antibiotik? Penicillin, Amoxicilin, Cefadroxil, Erythtromicyn, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang menganggap obat antibiotik adalah senjata pamungkas terhadap penyakit membandel. Benarkah seperti itu?

Setiap 14 hingga 22 Nopember lalu diperingati sebagai pekan antibiotik sedunia. Untuk itu beberapa waktu lalu, Yayasan Peduli Orang Tua (YPOT) mengadakan seminar dan diskusi Cegah Bencana Kemanusiaan Akibat Resistensi Antibiotik. Bisa dibayangkan, pemakaian obat antibiotik yang serampangan, bukan malah menyembuhkan, tapi menjadikan bakteri kian kebal. Penyakit pun jadi makin sulit diobati.

Dampak buruk dari kebiasaan konsumsi antibiotik ini disampaikan dokter Purnamawati Sujud dari YPOT. Dokter senior ini menegaskan kebiasaan konsumsi antibiotic berlebihan menyebabkan mikrobakteri yang resisten. Kondisi yang biasa disebut antimicrobial resistence (AMR) ini terjadi karena mikrobakteri (mikroba) yang selamat dari pengobatan bermutasi untuk mempertahankan diri. “Mikrobakteri juga mahluk hidup yang bisa berevolusi karena mempertahankan diri dari ancaman,” kata Purnamawati.

Sementara, sebagian masyarakat masih mengganggap antibiotik sebagai “obat dewa”. Jika tak minum antibiotic  masih dirasa minum tak afdhol.  Padahal penyakit yang bukan jenis infeksi sebenarnya tidak butuh antibiotic. Apabila sudah menjadi resisten, maka pengobatan penyakit akan jauh lebihsulit dilakukan.

“Mikroba hanya butuh 2 -3 tahun untuk menjadi resisten terhadap atibiotik. Namun, penemuan antibiotic baru memakan waktu puluhan tahun dan biaya yang mahal,” jelas Purnamawati. Tak hanya pada manusia, pemakaian antibiotic sembrono pada hewan terutama hewan konsumsi berdampak sama. Obat antibiotik yang dikonsumsi manusia juga tak selayaknya diberikan pada hewan, jelas Purnamawati.

Sel bakteri membelah diri setiap 20 menit. Jadi bisa dibayangkan dalam 8 jam sudah 16 juta sel bakteri baru yang muncul. Apabila bakteri tersebut ternyata jenis patogen dan Bergen resisten sehingga kebal antibiotik, bisa dibayangkan ancamannya bagi manusia dan hewan. Karena potensi jumlah yang banyak, dan bisa berkembang dengan cepat, bakteri bisa menyebar dengan cepat ke berbagai tempat.

Pada dasarnya menurut Purnamawati, penyakit seperti flu, batuk, pilek, diare (tanpa darah), radang tenggorokan, tidak perlu antibiotik. Sering ada persepsi yang salah di tengah masyarakat, jika seseorang terpapar radang tenggorokan, kondisi dalam mulut yang bengkak memerah adalah dalam bahaya dan butuh antibiotik. Padahal, hal itu merupakan respon kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. “Itu proses melebarnya pembuluh darah sehingga produksi sel darah putih meningkat guna melawan virus yang masuk,” cetus dokter senior yang terlihat masih enerjik ini.

Sebuah survei WHO & YOP 2015:  57 dokter (umum, spesialis, gigi) dari 153 responden mengaku meresepkan antibiotik untuk kondisi tidak butuh (yang dimuat di majalah Newsweek edisi 2008 “Antibiotics The End of Miracle Drugs”). Sementara tak sedikit pasien yang membeli antibiotik tanpa resep dokter di apotik. Apabila dipersentasekan, 25 – 75 % antibiotika yang diresepkan dokter sebenarnya tidak perlu. Yang mengerikan, 90% dibeli tanpa resep.

Semua itu bisa dihindari dengan mengkonsumsi antibiotic secara bijak. “Perlu adanya kepedulian dari semua pihak,” harap Purnamawati. Peduli dalam arti sudah saatnya pemahaman segala bentuk gangguan tubuh harus terapi antibiotik, diubah.  Karena hal itu bukan menyelesaikan masalah, melainkan memperparah situasi. Masyarakat harus menjadi evidence based society dalam mengkonsumsi obat, tak lagi “latah”.

Terhadap soal atibiotik ini, dokter Purnawati berpesan,”Kita harus menjaga akses namun juga mengurangi ekses dari pemakaian antibiotic.” Menjaga akses artinya memakai antibiotik secara keilmuan (bukan perasaan) sehingga ekses dampak buruk (antimikrobakteri resisten) menjadi bisa dikurangi.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]