banner
Ilustrasi CSR. Grafis : Istimewa
Wawasan

Bagaimana Tepatnya Praktik CSR Itu? (2)

154 views

Artikel ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yang bersumber dari pakar dan profesional CSR, Ditto Santoso. 

MajalahCSR.id – Selain itu juga menginternalisasi ekspektasi para pemangku kepentingan. “Seringkali saya datang ke perusahaan meminta hasil pemetaan pemangku kepentingan, tapi yang saya dapatkan hanya nama, alamat, nomor telepon, tanpa analisisnya, dan tidak ada rekomendasi strateginya,” kritik Ditto. Hal ini tentu saja keliru.

Bagaimana cara melibatkan pemangku kepentingan atau ‘stakeholder engagement’? Harus ada pemetaan pemangku kepentingan lebih dulu. Ditto menyebutnya perlu pendekatan yang lebih holistik atau menyeluruh dalam memahami tanggung jawab sosial secara komprehensif.

7 Subyek Inti

Pendekatan yang dilakukan berkenaan dengan 7 subyek inti, mulai pada aspek hak asasi manusia, ketenagakerjaan, praktik operasional bisnis, isu konsumen, lingkungan, serta pelibatan dan pemberdayaanan masyarakat. Seluruhnya harus dikelola melalui tata kelola perusahaan atau organisasi. Hal ini sesuai dengan panduan atau pedoman dari ISO 26000 : 2010 yang diratifikasi oleh BSNI dalam SNI ISO20000 : 2013 yang dikuatkan oleh SK No. 147/KEP/BSH/12/2012. CSR yang paling pertama harus dipahami adalah compliance artinya patuh pada peraturan.

Dengan kata lain, CSR tidak sekedar community development ataupun kegiatan amal. SR bersifat menyeluruh dalam kegiatan bisnis. Artinya bagaimana setiap divisi dalam perusahaan memiliki tanggung jawab sosial.

“Sebagai contoh, misalnya bagaimana fungsi (divisi) Human Resource (perusahaan) bisa memiliki tanggung jawab sosial. Makanya dia harus, misalnya, memberikan upah sesuai dengan regulasi yang berlaku, melakukan people development, mensupport jaminan sosial untuk karyawan, memberikan peluang rekruitmen yang layak bagi perempuan dan kaum disabilitas. Ini adalah (contoh divisi) human resource yang bertanggung jawab sosial.”

Hal ini berarti, lanjut Ditto, social responsibility dapat diaplikasikan atau mencakup pada fungsi-fungsi yang lain, termasuk isu konsumen. Apabila dilihat dari Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, disebutkan bahwa tanggung jawab sosial merupakan komitmen perseroan untuk berperan serta dalam mengembangkan ekonomi berkelanjutan. “Ini memiliki definisi pemberdayaan, yang diturunkan ke dalam PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas” jelas Ditto.

Pada PP 47 tersebut, urai Ditto, menerjemahkan tanggung jawab sosial secara teknis jadi siklus program. “Ada asesmen, ada planning, ada implementation, kemudian mengomunikasikan. Jadi di Undang-undang No. 40 adalah definisinya, sementara di PP No 47 adalah bagaimana melakukannya.” Yang jelas menurut pria berkaca mata ini, semua peraturan tersebut termasuk UU no. 19 Tahun 2003 dan PPER-05/MBU/04/2021 yang menyangkut BUMN, semuanya berbicara tentang pemberdayaan masyarakat.

Sementara secara global, CSR dimaknai sebagai komitmen kontribusi dunia bisnis terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, berdasarkan Worldbank maupun ICSD yang mencakup people, planet, prosperity, peace, partnership.

Dalam pelaksanaannya ada banyak contoh pihak-pihak yang sudah menerapkannya. Sebut saja di industri sawit terdapat RSPO, yaitu badan independen yang memastikan para anggotanya yang terdiri dari pelaku indiustri sawit menerapkan prinsip keberlanjutan. Pada praktiknya, tidak terpisah antara sosial, lingkungan, dan bisnis,. Sementara itu di industri tebu, menurut Ditto, ada juga yang disebut Bon Sucro, yang merupakan pedoman bisnis yang bertanggung jawab sosial dalam industri perkebunan tebu berkelanjutan. Sebagai tambahan, istilah tanggung jawab sosial di beberapa pengertian sudah termasuk lingkungan di dalamnya.

“Di Indonesia, tak mengenal apapun jenis industri yang mengerjakannya, ada yang namanya Proper, yang diusung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di Proper ini tidak hanya menyangkut bisnis, namun juga menyinggung aspek sosial dan lingkungan,” ungkap Ditto.

 

  • Bersambung
banner