banner
Ilustrasi CSR. Grafis : Freepik via kompas.com
Wawasan

Bagaimana Tepatnya Praktik CSR Itu? (1)

267 views

MajalahCSR.id – Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa kegiatan corporate social responsibility atau CSR hanya sekedar buang-buang dana demi citra perusahaan atau lembaga. Apakah benar demikian?

Menurut pakar dan praktisi CSR, Senior Adviser Landscape Indonesia, Ditto Santoso, terdapat 4 fenomena yang biasanya mengiringi pengertian (keliru) CSR di sebagian masyarakat. Yang pertama adalah bahwa praktik CSR hanya menghabiskan duit saja. “Apa imbal baliknya buat perusahaan?” kata Ditto pada webinar “CSR: Beban atau investasi” yang diselenggarakan Remark Asia, kamis (14/4/2022).  

Fenomena selanjutnya adalah, setelah dilakukan program CSR perusahaan atau lembaga, kenapa masih ada saja aksi demonstrasi dari sejumlah pihak? “Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat lumrah yang bisa ditemui oleh teman-teman (pelaku program CSR) di lapangan,” ujar Ditto.

Fenomena yang ketiga adalah tuduhan bahwa CSR itu memiliki departemen (dalam perusahaan atau lembaga) yang tidak jelas. Karena departemennya (dianggap) tidak jelas, tutur Ditto, maka orang-orang yang kinerjanya tidak jelas biasanya ditaruh di (bagian) CSR. Meskipun lambat laun, seiring dengan tren kegiatan CSR yang mulai muncul di dekade 90-an hingga saat ini, para pegiat CSR merupakan orang-orang yang professional di bidangnya.

Untuk fenomena keempat, adalah pertanyaan seputar reward atas program CSR yang dilakukan. “Kalau sudah melakukan banyak program, kenapa tidak dapat award (penghargaan)? Jadi KPI (Key Performance Index) itu salah satunya dalah dapat award. Ini yang kadang menjadi kepusingan (masalah) di kalangan teman-teman (pegiat) CSR,” sebutnya.

Setidaknya terdapat 13 miskonsepsi atau salah pemahaman terhadap CSR (Tom Malik dan Jalal, 2008). Mulai dari CSR identik dengan community development, identik dengan kedermawanan/ filantropi atau amal (charity), hanya menyangkut aspek sosial, dilaksanakan oleh unit tertentu (dalam organisasi), CSR tergantung pada keuntungan, hanya berlaku untuk perusahaan-perusahaana besar, hanya ditempelkan pada operasional perusahaan, ditujukan pada industri tertentu, bertujuan akhir pada kepentingan konsumen, meningkatkan biaya bisnis, hanya upaya pencitraan perusahaan, bersifat fakultatif, dan hanya difokuskan kepada pemangku kepentingan semata.

Miskonsepsi dan fenomena

Untuk fenomena pertama, Ditto menyebutnya sebagai hubungan yang tak sehat antara perusahaan dan pemangku kepentingan termasuk masyarakat sekitar. “Apabila banyak miskonsepsi itu terjadi, maka CSR boleh jadi bisa dikatakan ‘cuma sekedar rupiah’ atau hanya menghamburkan uang perusahaan saja,” kata Ditto.  Bahkan menurutnya bisa lebih buruk lagi kondisinya yang diibaratkan sebagai ‘candu sandera racun’.

“Kenapa jadi candu, karena dia menjadikan perusahaan kecanduan melakukan sesuatu tapi sesuatunya tidak pas (tidak pada tempatnya), dan perusahaan merasa mereka telah melakukan hal benar seperti membagikan ini, menyalurkan itu. Masyarakat dan pemangku kepentingan juga akan kecanduan  (karena merasa terus diberi oleh perusahaan). Maka dengan begitu, seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan, hingga masyarakat, dan yang lainnya akan tersandera oleh kepentingan masing-masing,” jelas mantan manajer keberlanjutan di salah satu perusahaan air mineral terkemuka ini. Hubungan tersebut tentunya sangat tidak sehat dan jadi racun bagi semua pihak.

Menyangkut fenomena yang kedua, yaitu sudah banyak melakukan kegiatan CSR dalam arti bagi-bagi bantuan, namun ternyata masih banyak terjadi aksi protes (pada perusahaan) atau demonstrasi. “Jangan-jangan begini,” kata Ditto mencontohkan. “Kita sudah memberi bantuan alat-alat olahraga pada sekelompok pemuda di sebuah desa, tapi tetap melakukan protes pada perusahaan. Lah kebutuhannya itu lapangan kerja kok, malah dikasih alat olahraga.”

.Terkait hal ini Ditto merujuk pada ISO 26000 : 2010, Guidance on Social Responsibility (Pedoman Tanggung Jawab Sosial). Jadi hal yang perlu dikedepankan adalah memahami pengertian Social Responsibility (SR). Ditto menekankan bahwa dalam pedoman tersebut tak disebutkan corporate karena tanggung jawab sosial bisa dilakukan oleh selain perusahaan seperti lembaga sosial, pendidikan, kesehatan, media, dan sebagainya. Menurut Ditto pengertian SR yang paling tepat adalah “Tanggung jawab suatu organisasi atas dampak keputusan dan tindakannya terhadap masyarakat dan lingkungan”.

“Mengelola dampak baik yang sifatnya positif maupun negatif. Intinya memperbesar dampak positif dan mencoba mengurangi dampak negatif,” sebutnya.  Hal ini tercermin dari perilaku etis hubungan yang baik dan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. “Termasuk di dalamnya kesehatan, kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

  • Bersambung
banner