× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ayo Cegah Stunting Bersama-sama

By Redaksi

Jakarta – Majalahcsr. Pemerintah menargetkan angka stunting bisa berkurang setidaknya menjadi 25% dari total balita yang ada di Indonesia. Sejauh ini pemerintah telah melaksanakan sejumlah program perbaikan gizi, seperti program perbaikan sanitasi dan MCK, juga program bagaimana prilaku hidup sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dilakukan terintegrasi oleh semua kementerian/lembaga.

“Kita mau turunkan 2019 itu 1/4, ya kalau bisa lebih rendah lebih bagus. Tetapi sekarang kita lihat dengan yang sudah kita lakukan selama ini, bisa nggak kita sampai turun jadi 1/4,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam acara peluncuran buku Aiming High Indonesia’s ambition to reduce stunting di Financial Club, Jakarta, Rabu (19/9)

Sebelumnya, Pemerintah resmi memulai Kampanye Nasional Pencegahan Stunting, pada Minggu (16/9). Acara ini dipimpin Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko didampingi oleh Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. Seperti halnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sektor swasta juga diajak berpartisipasi dalam Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di area Monumen Nasional (Monas), Jakarta. “Cegah Stunting untuk Generasi Cerdas Indonesia” menjadi tema gerakan nasional ini.

Dok. Tribunnews.com

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia bawah lima tahun akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupannya. Stunting menghambat perkembangan otak dan tumbuh kembang anak tinggi badan balita stunting juga lebih rendah daripada standar umurnya.

Ketika beranjak dewasa anak stunting rentan terhadap penyakit, kurang berprestasi di sekolah, rentan mengalami kegemukan, dan ketika dewasa lebih mudah terkena berbagai penyakit tidak menular, seperti jantung dan diabetes.

Di antara perwakilan perusahaan yang mendukung acara itu, tampak hadir Rachmat Hidayat, Government Relations Director Danone Indonesia mewakili PT Tirta Investama.

“Kami senantiasa berkomitmen dan siap bekerjasama dengan pemerintah untuk mendukung program pencegahan stunting pada anak,” ungkap Arif Mujahidin, Corporate Affairs Director Danone Indonesia ketika dihubungi wartawan melalui sambungan telepon seperti yang dikutip oleh Tribunnews.com.

Kampanye Nasional Pencegahan Stunting mendesak dilakukan saat ini karena BPS mencatat satu dari tiga anak bawah lima tahun (balita) Indonesia masih mengalami stunting (2013). Jumlahnya mencapai sembilan juta balita dengan latar belakang tidak hanya dari keluarga miskin.

Dok. Tribunnews.com

Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, investasi apapun yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM menjadi tidak optimal. Karena apapun yang di ajarkan, guru, laboratorium, kurikulum, atau pelatihan menjadi kurang optimal karena kemampuan otak anak-anak terbatas dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Pada usia produktifnya, anak stunting berpenghasilan 20% lebih rendah daripada anak yang tumbuh optimal. Stunting bisa menurunkan Produk Domestik Bruto negara sebesar 3%. Bagi Indonesia, kerugian akibat stunting mencapai sebesar Rp 300 triliun per tahun.

Kampanye Nasional Pencegahan Stunting ini sekaligus implementasi dari Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo 16 Agustus 2018 lalu yang menegaskan bahwa pembangunan SDM diawali sejak dari kandungan.

“Kalau kita cegah stunting dari sekarang, pada tahun 2040 nanti, ketika anak-anak ini berusia 22 tahun, mereka akan jauh lebih hebat daripada generasi sebelumnya. Ini investasi jangka panjang kita sebagai bangsa,” jelas Moeldoko.

Stunting disebabkan oleh perilaku pola asuh dan pola makan yang tidak baik, serta sanitasi yang tidak bersih dan tidak sehat. Oleh karena itu, stunting hanya bisa dicegah dengan memperbaiki pola asuh, pola makan, dan menciptakan sanitasi yang bersih dan sehat.

Agar kondisi itu terwujud, keluarga perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Pemerintah menyiapkan berbagai program dan aktivitas untuk mencegah stunting, antara lain merevitalisasi pos pelayanan terpadu (Posyandu) bagi sarana pendidikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang balita, serta melatih para petugas kesehatan dan kader agar mampu mendidik masyarakat. Juga, pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil serta vitamin A, obat cacing, dan imunisasi untuk balita.

Dengan berbagai program tersebut, pemerintah menargetkan, prevalensi stunting bisa ditekan dari angka 37,2% pada 2013 menjadi 28% pada 2019.

 

 

 

Keywords: ,

Coba saja tanya soal film, obrolan pria berkacamata ini sulit berhenti. Sudah puluhan karya berkualitas ia hasilkan demi kemajuan industri perfilman nasional. Peran yang digelutinya pun bermacam, mulai dari penulis skenario, sutradara, hingga produser. Beragam penghargaan film sudah digenggam hasil dari kerja keras, dan pengakuan atas prestasi serta dedikasi. Pria yang akrab disebut Aris lahir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]