× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Asia Tenggara Bisa Gaet USD 205 M dengan Sistem Pangan Berkelanjutan

By Redaksi
Ilustrasi Sistem Pertanian. Foto : Ian Slater from Pixabay

MajalahCSR.id – Riset paling anyar oleh Bain and Company, konsultan firma di Amerika Serikat, mengungkapkan, Asia Tenggara bisa mendapat pemasukkan sebesar USD 205 miliar per tahun bila menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan. Pangan pertanian (Agri-food) disebut salah satu bidang paling komprehensif untuk menggaet kesempatan USD 1 triliun per tahun di Asia Tenggara pada 2030. Setiap negara di wilayah tersebut disarankan bisa mengejar potensi sosial dan ekonomi dari “green economy”.

Merujuk pada Bain & Co, Asia Tenggara masih tertinggal di belakang wilayah lain dalam implementasi inisiatif “hijau”. Diberkahi dengan keragaman mahluk hidup (biodiversity) peringkat ke 5 di dunia, negara-negara di ASEAN dinilai belum sepenuhnya mendekati prinsip tujuan PBB tentang pembangunan berkelanjutan. Bahkan disebutkan tak satu pun negara ini ada dalam daftar 40 negara teratas terkait tujuan pembangunan berkelanjutan.

Terlebih lagi, wilayah ini disebutnya turut bertanggung jawab atas 50% pengelolaan limbah plastik yang salah sesuai target 2025, laju penggundulan hutan tropis yang cepat, dan kurang maksimalnya pengelolaan air limbah. Faktor-faktor tersebut merupakan pengaruh buruk bagi lingkungan dan mengancam negara di ASEAN dalam persaingan global di masa depan.

Para importir akan memasang pajak tinggi bagi produk dengan jejak karbon tinggi, dan orang-orang (investor dan konsumen) kian banyak yang beralih ke bisnis yang bisa mempraktikan bisnis berkelanjutan.

“Secara keseluruhan, Asia Tenggara belum memperlihatkan stimulus yang cukup untuk ekonomi hijau dibandingkan 3 besar (China, Uni Eropa, dan AS). Meskipun demikian, wilayah ini yang tadinya sedikit lambat dalam sektor ekonomi digital, kini mulai berubah dengan cepat menjadi yang terbesar di dunia. Ini memperlihatkan, meskipun lambat dalam memulai, Asia Tenggara dapat berubah secara cepat jika berupaya sungguh-sungguh. Ini adalah kesempatan bagi ASEAN untuk melompat,” kata Dale Hardcastle, partner Bain & Co dalam sebuah perbincangan.

Bain & Co, mengutip intelligentliving, menggarisbawahi 5 sektor, di mana sistem pangan dan “green urban development” yang paling berpotensi untuk bertransformasi ke arah keberlanjutan. Bagaimanapun jika seluruh 5 potensi sektor ini dimaksimalkan, niscaya akan menambah 8% dari GDP di Asia Tenggara, serta memicu 6 juta lapangan pekerjaan baru.

Bain and Co merekomendasikan hal ini agar sektor agri-pangan bisa maksimal.

  • Mendorong diet dengan protein alternatif dan pangan fungsional, beras dengan gizi terfortikasi dan mengurangi kandungan gula.
  • Mengambil peran dalam pengembangan pertanian urban, termasuk dalam ruang dan kebun vertikal, serta praktik pertanian aqua kultur yang berkelanjutan.
  • Membangun rantai pasok dari hulu ke hilir yang transparan bisa dipertanggungjawabkan kepada lingkungan.
  • Mengadopsi metode pertanian dan perkebunan regenaratif untuk meningkatkan produktivitas dan mengecualikan dampak karbon.
  • Mengurangi limbah pangan dan memanfaatkan kembali limbah makanan dan pertanian/perkebunan/peternakan.

Nyaris dua pertiga dari USD 205 miliar yang didapatkan dari sistem pangan yang berorientasi pada kesehatan dan berkelanjutan  berasal dari efisiensi dan penghematan.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]