× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Apakah Program Berkelanjutan (Corporate Sustainability) Terhenti di Masa Pandemi?

By Redaksi
Ilustrasi Corona Virus. Grafis : istimewa/greenbiz.com

MajalahCSR.id – Jika anda percaya  bisnis media “mainstream”, ada pemberitaan yang terus dibahas pada masa pandemi ini. Berita dua krisis mulai soal wabah covid-19 hingga dampak ekonominya, seolah menenggelamkan berita soal aktivitas bisnis keberlanjutan.

Bulan lalu, sebagai contoh, media The Wall Street Journal memberitakan soal komitmen dan program perusahaan bertajuk “Sustainability Was Corporate America’s Buzzword. This Crisis Changes That”. Isi cuplikan berita ini seolah berbunyi, “para eksekutif perusahaan menyerukan ‘time out’ (untuk program sustainability)”.

Tulisan beritanya kurang lebih seperti ini: “Hari ini, para eksekutif perusahaan tengah berupaya membuang ‘beban kapal’-nya di tengah dampak pandemi yang menguncang bisnis. Kini bisnis tak lagi soal menyelamatkan bumi, melainkan pada menyelamatkan (perusahaan) mereka sendiri.”

Diantara berbagai berita, muncul kabar seperti: General Motors menghentikan program berbagi (pemakaian) kendaraan, Starbucks tak lagi memakai cangkir yang bisa didaurulang dan perusahaan ini menunda laporan keberlanjutannya.

Ya, kita bisa paham: tak ada seorang pun yang bersedia berbagi tumpangan kendaraan dengan orang asing dan menikmati kopi dalam cangkir tak tercuci di tengah pandemi ini. Tak bisa disalahkan, kebijakan dua perusahaan tersebut memang layak dihentikan, setidaknya untuk sementara.

Tapi menariknya, perusahaan yang menjalankan corporate sustainability (yang terdiri dari 4 pilar: manusia, sosial, ekonomi, dan lingkungan) ternyata masih ada. Tak seperti peristiwa kekacauan ekonomi sebelumnya, keberlanjutan demi efisiensi perusahaan bukanlah hal yang bisa dihilangkan begitu saja. Seharusnya hal ini tetap diterapkan, karena justru bagian dari keuntungan perusahaan.

Apakah masih berpikir program keberlanjutan perusahaan sudah mati? Mari kita lihat lagi fakta di bawah ini:

  • Microsoft tetap berkomitmen melindungi lahan daripada lahan yang dipakainya di seluruh dunia pada 2025
  • Southern Company berkomitmen untuk menerapkan upaya zero emisi pada 2050
  • Citigroup memutuskan tak lagi mendukung industri tambang batubara pada 2030
  • Shell berencana menerapkan zero emisi pada seluruh produknya
  • Perusahaan mainan Mattel mulai memanfaatkan bahan baku ramah lingkungan yaitu tebu dalam lini produknya
  • Volvo dan Daimler merilis kerja sama senilai 1,2 miliar euro untuk pengembangan truk listrik
  • General Mills berkomitmen memakai energi terbarukan pda keseluruhan operasionalnya pada 2030

Program perusahaan itu seluruhnya dicanangkan pada April, saat pandemi covid-19 dan dampak ekonomi mulai dirasakan secara global. Ok, bisa saja itu lantaran terjadi di bulan April, saat warga dunia memperingati hari bumi sehingga perusahaan terlihat “baik”. Tapi jika momen itu dijadikan alasan, ternyata tidak tepat.

Media memberitakan sejumlah perusahaan global tetap berkomitmen mendukung corporate sustainability mereka di bulan Mei. Berita tersebut diantaranya:

  • Dunkin’ Donut akan memerapkan cangkir minuman bebas plastik dan menambah restoran hijau mereka
  • Total akan menghentikan operasional mereka pada pertengahan abad ini
  • Raksasa perangkat keras Intel Group memiliki salah satu komitmen “berbagi” (kepentingan) iklim dan tujuan sosial pada 2030
  •  Bank BNP Paribas mempercepat rencana tak lagi mendukung industrri tambang batu bara
  • Google menghentikan perangkat AI untuk mencari soal industri minyak dan gas
  • Lebih dari 150 perusahaan global menyerukan pemimpin dunia untuk menerapkan nol emisi pada upaya pemulihan akibat COVID-19
  • Lebih dari 300 perusahaan di Amerika menekan kongres untuk mempromosikan kebijakan iklim
  • Siemens Gamesa mengungkapkan rencananya membuat turbin angin terbesar di dunia, dan masih banyak lagi

Lima Alasan Penting

Jadi, kenapa Corporate Sustainability tetap dilakukan perusahaan di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini? Ada lima alasan:

  • Corporate sustainability adalah evolusi yang memakan waktu lama. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perusahaan menerapkan komitmen mereka di program ini dalam periode yang menengah dan panjang, dimulai dari 2025, 2030, 2050, dan seterusnya. Ini artinya mereka mengubah structural perusahaannya untuk jauh ke depan. Perubahan ini bukanlah yang datang sepintas lalu dan berhenti namun berdasar hitungan kuarter.
  • Perusahaan memahami bahwa keberlanjutan melahirkan ketahanan rantai pasok yang transparan, operasional yang efisien, meningkatkan, memperbaki kemampuan operasional dari pemulihan malapetaka akibat berbagai hal
  • Investor melihat keberlanjutan adalah hal penting. Hal ini terkait dengan poin kedua, institusi pemegang saham melihat performansi keberlanjutan perusahaan merupakan bukti dari perusahaan yang memiliki manajemen yang baik yang berpengaruh bagi strategi investasi.
  • Terdapat yang disebut  pertumbuhan kebutuhan untuk bisnis untuk menghidupkan kembali ekonomi dunia (akibat covid-19) dan membantu perusahaan untuk menghadapi pandemi selanjutnya: perubahan iklim. Di Eropa, “green recovery” menjai sesuatu yang digaung-gaungkan.
  • Perusahaan memahami bahwa dunia sedang menyoroti mereka. Perusahaan ingin tetap memikat pelanggan dengan menjadi bagian dari solusi atau setidaknya bukan salah satu pembuat masalah. Nyatanya, kita mungkin sering mendengar akhir-akhir ini, para pembeli atau pencari kerja memilih perusahaan yang “bagus” secara keberlanjutan (keempat pilar dari corporate sustainability). Waktu pun kian mendorong pemikiran tersebut. Di dunia di mana gabungan bakat, muda dan pengalaman, yang merujuk pada memperbaiki dunia, siapa yang akan bergabung dengan perusahaan yang tak mempedulikan hal tersebut?

Tentu saja semua itu bukanlah skenario yang mudah dijalankan. Pekerjaan terkait energi bersih mulai tergerus ekonomi yang sulit di tengah wabah. Lowongan pekerjaan di perusahaan corporate sustainability pun mengalami penundaan. Banyak perusahaan yang kini berjuang menanggulangi pandemi demi memastikan karyawan mereka, pemasok, pelanggan, dan lainnya tetap ada.

Tapi mari kita bersyukur: program keberlanjutan (corporate sustainability) tetap dilakukan, di tengah masa terburuk dalam sejarah manusia ini. Adalah hal yang bernilai dan penting diperhatikan dalam menangani masalah ekonomi, lingkungan, dan sosial yang tengah dihadapi dengan menumbuhkan  ketahanan sosial untuk menghadapi gelombang masalah selanjutnya, apapun bentuknya. Lalu perlahan-lahan perusahaan melangkah untuk menghadapi tantangan dan mengambil kesempatan.  

*Tulisan merupaka terjemahan dari artikel berjudul “Is sustainability undergoing a pandemic pause?” yang ditulis Joel Makower chairman dan editor eksekutif di GreenBiz Group Inc., dan produser GreenBiz.com. Tulisannya beralamat di : https://www.greenbiz.com/article/sustainability-undergoing-pandemic-pause

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]