× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Apakah Limbah Farmasi Ancaman Bagi Habitat Air? Ahli Menjawab

By Redaksi
Obat yang Mengandung Zat Kimia. Foto : peer.eu

MajalahCSR.id – Zat kimia biasa ditemukan dalam “medicine” dan “drug” untuk pengobatan dan pencegahan penyakit di mana penggunaannya sangat luas di dunia. Ada kekhawatiran bahwa zat kimia ini larut dan terbawa dalam aliran air seperti selokan, sungai, hingga danau.

Untuk mencari tahu masalah ini, sejumlah ahli zat kimia (toksikologi) dan lingkungan dikonfirmasi terkait pertanyaan: Apakah zat obat kimia yang larut di perairan membahayakan? Inilah jawabannya.  

Berapa kandungan zat obat kimia saat ini dalam perairan di alam?

Mengutip Science Alert, sebuah riset di AS menemukan zat kimia dalam 80% sampel yang diambil dari aliran sungai di 30 negara bagian. Isu adanya zat obat dalam saliran sungai alami tak hanya terjadi di AS melainkan di seluruh dunia. Pada 2014, review dari sekitar 1.000 riset mengungkapkan, terdapat residu zat kimia pada sejumlah sungai di 71 negara di dunia.

Masih di tahun 2014, review yang dilakukan juga menemukan lebih dari 600 kandungan kimiawi berbeda di danau, sungai, dan air tanah secara global. Kandungan obat kimiawi ini termasuk antibiotik, penghilang nyeri, penghambat beta (untuk jantung), kontrasepsi hormonal, antidepresan, dan masih banyak lagi.

Bagaimana zat obat kimiawi ini masuk ke dalam aliran air?

Terdapat banyak cara di mana medicine dan drug berakhir di aliran sungai, dan danau. Salah satunya dari saluran pembuangan. Saat kita meminum obat, tubuh hanya menyerap sebagian kandungan obat kimiawi, sisanya dibuang tubuh. Pembuangan yang tidak tepat dari pengobatan ini dengan membuangnya lewat toilet juga menambah potensi zat kimia obat masuk ke dalam saluran air.

Zat obat kimia juga bisa masuk ke dalam sistem aliran air melalui pertanian, dimana pemberian obat, biasanya antibiotik dan hormon buatan, digunakan pada peternakan.

Terakhir, zat tersebut juga bisa berasal dari industri pabrik obat-obatan. Sebagai contoh, tempat pengolahan limbah air yang dekat dengan pabrik farmasi di India terbukti punya kandungan antibiotik yang sangat tinggi.

Meskipun air limbah diolah dan dibersihkan lewat pusat pengolahan, Dr Bruno Nunes, ahli zat kimia dari Universitas Aveiro mengatakan, “Proses pengolahan air limbah tidak benar-benar efektif untuk mencegah zat obat kimia terlepas ke ekosistem perairan.”

Apa dampaknya pada kehidupan perairan?

Cukup sulit untuk secara menyeluruh memastikan bagaimana zat ini bisa mempengaruhi kehidupan air dengan data yang kurang lengkap. Namun, ada beberapa contoh bahwa kontaminasi obat bisa mengancam kehidupan alam liar. Salah satunya obat anti radang, disclofenac, yang ditemukan di sungai  dapat merusak ginjal dan selaput pencernaan ikan, menyebabkan kematian.

Di sisi lain, tidak selalu identik membandingkan dampak hasil obat kimia di alam berdasarkan eksperimen di laboratorium. Dr Nunes beralasan, karena beberapa zat obat kimia berinteraksi dengan  substansi lain (yang berbeda di setiap tempat) sehingga berdampak beda pada spesies air, meskipun level kandungannya sama.”

Selain itu, zat ini juga punya banyak cara yang tidak langsung mengancam kehidupan air. Dr Mike Grace, ahli lingkungan dari Universitas Monash, menjelaskan, kandungan zat obat kimia saat ini berefek tidak membahayakan secara langsung pada alur kehidupan mahluk air dan penunjang ekosistem yang penting, seperti munculnya gangguan pada fotosintesis dan daur nutrisi.

Dr Grace melanjutkan, konsentrasi kimiawi yang ditemukan di perairan dunia juga disebut sebagai “Penganggu Ekosistem”.  Zat estrogen buatan (kimiawi) memperlihatkan dampak gangguan pada ekosistem dengan menjadikan sejumlah spesies ikan jantan berperilaku sebagai betina. Kondisi ini menjadikan jumlah populasi ikan mengalami kemunduran.  

Adakah dampaknya bagi manusia?

Dr Grace mengatakan, kandungan kimiawi dalam aliran air saat ini tidak membahayakan bagi manusia untuk berinterkasi dengan air atau bahkan meminumnya dengan secukupnya. Saat sekarang, kandungan kimiawi dalam air minum jauh di bawah ambang batas untuk mempengaruhi manusia secara fisiologis.

Kesimpulannya

Kandungan zat obat kimia di perairan alam saat ini membahayakan bagi kehidupan iar, namun belum mengancam manusia.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]