× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Apakah Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi?

By Redaksi
Dok. Filantropi Indonesia

Jakarta – Majalahcsr. Untuk  memetakan isu  dan ajang dengar pendapat dari organisasi anggota dan mitra Filantropi Indonesia yang mempunyai perhatian khusus pada bidang lingkungan, diadakahlah Focus Group Discussion (FGD) sebagai tahapan awal dari pembentukan Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi. Acara ini adaah hasil kerja sama Filantropi Indonesia dengan Universitas Binus Internasional pada 10 April 208 lalu.

Lima belas (15) anggota Filantropi Indonesia yang hadir dalam kegiatan ini, antara lain The Nature Conservation (TNC), KEHATI, Yayasan Adaro Bangun Negeri, Yayasan Buddha Tzu Chi, Yayasan Unilever Indonesia, Yayasan Belantara, dan BAZNAS.

Pembentukan Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) seperti pemerintah, Civil Society Organization (CSO), akademisi, dan lembaga nonprofit. Harapannya, semua sektor tersebut dapat berkolaborasi dan berintegrasi sesuai dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan pendekatan yang inklusif.

Ke depan, klaster ini tidak hanya akan berfokus pada satu isu saja secara spesifik, misalnya kehutanan, tetapi juga isu lain yang relevan dengan kondisi yang saat ini terjadi, seperti pertumpahan minyak dan isu pertanian, air dan sanitasi, pemukiman dan perkotaan, sustainable consumption, climate change, serta ekosistem lautan dan ekosistem daratan.

Sebelum kegiatan FGD ini berlangsung, Filantropi Indonesia melakukan survei secara online kepada anggota dan mitra Filantropi Indonesia selama dua (2) minggu. Survei ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman dasar (baseline assessment) dari masing-masing anggota serta ruang lingkupnya. Sehingga, klaster ini dapat menentukan pola pendekatan yang paling tepat untuk memberikan bantuan, mekanisme kerjasama, dan pola koordinasi.

Kegiatan diskusi ini berhasil merumuskan langkah kerja selanjutnya untuk pembentukan Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi, yaitu bentuk klaster, pilihan isu, mekanisme filantropi dengan efektif, strategi komunikasi, rencana tindak lanjut dengan masyarakat, serta keselarasan dengan program yang dijalankan pemerintah.

 

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]