banner
Pelaksanaan Acara Forum Nasional II Filantropi Kesehatan. Foto : Istimewa/Forum Filantropi Kesehatan
Wawasan

Apa Peran Filantropi untuk Pendanaan Kesehatan di Masa Pandemi COVID-19?

634 views

MajalahCSR.id – Pada  2020, Pemerintah Indonesia mengalokasikan lima persen bujet dari APBN untuk anggaran kesehatan. Namun, pembiayaan kesehatan ini tidak dapat mengandalkan satu sumber yang teralokasi dari anggaran negara. Usaha mulia yang dilakukan oleh para pelaku filantropi diharapkan dapat menggugah seluruh elemen di dalam masyarakat untuk menyumbangkan dana, waktu, ide, maupun tenaga. Prinsip kedermawanan ini turut mengambil bagian ketika Indonesia dilanda pandemi COVID-19 pada awal Maret 2020.

Presiden Republik Indonesia telah menetapkan pandemi COVID-19 sebagai bencana nasional non-alam melalui Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2020. Ini berarti seluruh pendanaan yang terkait bencana dibebankan kepada pemerintah dengan melakukan perubahan APBD 2020 melalui Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2020. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana sebesar Rp 405,1 triliun untuk penanganan COVID-19. Meski pemerintah telah mengeluarkan dana kebencanaan dari APBN dan APBD untuk mendanai program pencegahan dan perawatan COVID-19, intervensi ini dinilai belum cukup untuk menanggapi secara keseluruhan oleh sebab sifat aliran dana yang relatif kaku dan lambat.

Filantropi, yang didasari dari semangat kedermawanan, memiliki berbagai potensi dalam pengembangan dana kemanusiaan untuk pembangunan sektor kesehatan di Indonesia. Terkait potensi kedermawanan, Indonesia patut berbangga karena pada tahun 2021 kembali dinobatkan sebagai negara paling dermawan melalui World Giving Index yang dirilis oleh Charities Aid Foundation. Hal ini dirasa tepat bilamana filantropi dapat berkontribusi dalam bentuk donasi untuk sektor kesehatan.

Berbagai lembaga non-pemerintah turut bergerak untuk mengumpulkan donasi tanggap COVID-19 dengan berbagai metode. Tak hanya donasi dalam bentuk dana, tetapi masyarakat juga menyumbang dalam bentuk barang seperti alat pelindung diri (APD) berupa masker, handschoen, hazmat suit, pelindung mata, dan barang lainnya. Menurut laman Filantropi Tanggap COVID-19 yang dikelola oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia (https://covid19filantropi.id), kontribusi sektor swasta hingga akhir Juni 2020 telah mencapai angka Rp 905 miliar.

Masyarakat Indonesia telah berkontribusi lewat donasi langsung kepada institusi implementer (penyelenggara layanan kesehatan), maupun donasi lewat berbagai platform yang tersedia. Selebritas dan selebgram pun turut mendengungkan semangat berbagi dengan menjadi fundraiser dan memanfaatkan platform donasi.

Dengan semangat gotong-royong dan solidaritas yang meningkat di masyarakat pada masa pandemi COVID-19, filantropi memiliki peran besar dalam melengkapi kehadiran program pemerintah. Oleh karena itu, timbul suatu pertanyaan, “Bagaimana peranan filantropi  dalam pendanaan kesehatan di masa pandemi COVID-19?” Untuk menjawab hal tersebut, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan Forum Nasional II Filantropi Kesehatan secara daring pada tanggal 24-25 Agustus 2021 yang didukung oleh Health Policy Plus, International Pharmaceutical Manufacturers Group, dan doctorSHARE.

Acara ini menghadirkan 16 pembicara dengan diskusi panel utama bersama keynote speaker Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dengan partisipan panel lainnya adalah Ir. Trihadi Saptoadi, MBA. (Ketua Badan Pengurus Yayasan Tahija) dan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK. (Direktur Utama BPJS Kesehatan), serta dipandu oleh dr. Jodi Visnu, MPH. (Peneliti dan Konsultan Filantropi Kesehatan PKMK FK-KMK UGM). Pembicara lainnya mewakili institusi akademik, organisasi filantropi, dan pemerintah membahas beberapa penelitian empiris dan implementasi filantropi kesehatan di masa pandemi serta cakupannya dalam skala nasional dan global. Turut menjadi narasumber perwakilan dari RSPI Sulianti Saroso, Perhimpunan Filantropi Indonesia, Rumah Zakat, Kementerian Kesehatan RI, dan Kementerian PPN/ Bappenas.

Adapun tujuan dan hasil yang ingin dicapai adalah:

Tujuan

  1. Mengeksplorasi peranan organisasi filantropi kesehatan dalam penanganan pandemi COVID-19.
  2. Mengeksplorasi keterlibatan filantropi untuk pembangunan kesehatan di Indonesia. Bagaimana peran para filantropis dalam pencarian solusi yang distingtif?
  3. Mengidentifikasi langkah kemitraan yang dapat dilakukan antarorganisasi filantropi kesehatan.

Hasil

  1. Donasi kemanusiaan memberikan kontribusi signifikan dalam penanganan pandemi COVID-19.
  2. Pemerintah Indonesia akan melibatkan filantropi dalam sistem pendanaan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu, akibat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19.
  3. Sinergi dan kolaborasi kemitraan antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah dibutuhkan agar setiap masyarakat mendapatkan hak untuk sehat secara menyeluruh.
  4. Pemerintah membuka kerja sama dengan badan usaha lewat berbagai start up platform dalam rangka penyediaan bantuan berupa barang bagi masyarakat.
  5. Tantangan pelaku filantropi korporasi adalah mengubah bentuk filantropi agar tidak hanya berbentuk tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility/ CSR) jangka pendek, melainkan juga berupa bantuan yang berkesinambungan.
  6. Diharapkan filantropi dalam sektor kesehatan dapat mendukung pencapaian target pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV 2020-2024 maupun tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dan dilaksanakan secara integratif, sistematis, transparan, dan akuntabel.
banner