banner
Ilustrasi logo ASEAN Summit 2023., yang merupakan acara pertemuan tingkat tinggi para pemimpin negara anggota ASEAN yang akan berlangsung di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Mei 2023 mendatang. Grafis: Istimewa
Wawasan

Analisis DBS Group Research Soal Kepemimpinan Indonesia di ASEAN

19 views

Jakarta, MajalahCSR.id – Indonesia memegang tampuk kepemimpinan ASEAN tahun ini setelah suksesmenyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada tahun 2022. Tema ASEAN Summit tahun ini, ‘ASEAN matters: Epicentre of Growth’, menggarisbawahi perjalanan ekonomi dan perkembangan di kawasan dalam dua dasawarsa terakhir, serta menyasar pada masa depan yang berkelanjutan, stabil, dan inklusif, didukung birokrasi yang baik dan efisien sebagai tulang punggung.

Melalui riset bertajuk ’DBS Focus, Indonesia: Bright spot in a vibrant ASEAN-6 region’, DBS GroupResearch menilik kemampuan Indonesia dalam peran sentralnya di ASEAN berdasarkan atas sejumlah faktor. Mari simak keempat faktor tersebut di bawah ini!

  1. Faktor demografi yang mendukung

Indonesia, yang berpenduduk 273 juta jiwa, adalah negara dengan penduduk terbesar di ASEAN-61, dan keempat terbesar di dunia. Hal ini membawa keuntungan demografis cukup besar, karena penduduknya tidak hanya relatif muda jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan itu, tetapi proporsi penduduk usia kerjanya juga menguntungkan, yang meningkat rata-rata 1,8% dalam satu dasawarsa terakhir.

Usia mediannya juga lebih rendah, yaitu 29 tahun, dan penduduk usia kerja mencapai dua pertiga dari total jumlah penduduk, dan porsinya akan tetap tinggi dalam dua dasawarsa mendatang, berdasarkan atas data Badan Pusat Statistik (BPS). Pulau Jawa menjadi jantung perekonomian nusantara, dengan jumlah penduduknya mencakup sekitar 55% dari total jumlah penduduk secara nasional dan produk domestik bruto (PDB) lebih dari separuh PDB nasional.

Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, urbanisasi juga tumbuh stabil, mencapai 57% dari penduduk, menurut Bank Dunia. Perekonomian Indonesia diperkirakan kembali ke status pendapatan menengah ke atas dalam beberapa tahun ke depan. Ada rencana memperluas ukuran kelas menengah, dari seperlima penduduk saat ini menjadi 45-50%.

Meskipun hal di atas memberikan peluang unik untuk mendorong pertumbuhan melalui perluasan sumber tenaga kerja, dan upah kompetitif, yang kemungkinan besar meningkatkan PDB per kapita, namun memastikan terciptanya lapangan kerja bermutu dan pendidikan/pelatihan keterampilan memadai akan menjadi beberapa prioritas utama bagi pemerintah untuk jangka menengah.

  1. Potensi sumber daya alam yang besar

Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, meliputi komoditas pertanian (misalnya, minyak kelapa sawit, karet), minyak mentah, dan logam/mineral, seperti, batu bara, bijih besi, bijih tembaga, nikel, gas alam, dan timah. Setengah dari keranjang ekspor terdiri atas komoditas primer yang mengimplikasikan kinerja sektor perdagangan memiliki kepekaan relatif tinggi terhadap siklus harga global.

Meskipun demikian, selama masa kejayaan, harga tinggi memberikan dampak menguntungkan, terutama bagi provinsi kaya akan sumber alam. Meskipun Indonesia menjadi eksportir komoditas bijih besi tradisional, selama dasawarsa terakhir ada upaya bersama untuk menarik lebih banyak kemampuan manufaktur di industri hilir, termasuk produksi baja, alumunium, kaca, baterai kendaraan listrik (EV), dan lain-lain. Selain komoditas besi, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia dan menjadi rumah bagi lahan gambut terbesar di dunia, yang menyimpan sejumlah besar karbon, yang dapat memitigasi dampak perubahan iklim, kata Bank Dunia.

  1. Dorongan dan integrasi investasi kuat

Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar kesepuluh di dunia berdasarkan atas paritas daya beli (PPP) dan termasuk dalam 20 besar dunia dalam hal PDB nominal.Berdasarkan atas PPP, pangsanya terbesar di antara negara lain di kawasan itu. Secara riil, perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata 5% secara tahunan pada dasawarsa sebelum pandemi, sementara laju pertumbuhannya melambat dari 6% pada awal 2010-an menjadi 5,0% antara 2014-2019.

PDB per kapita meningkat hampir tujuh kali lipat – dari di bawah -USD600 pada 1990 menjadi ~USD4.340 tahun lalu, membantu menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi di bawah 10%. Di luar rencana pembangunan jangka menengah nasional untuk 2020-2024 (yang sebagian terganjal oleh pandemi), ada rencana untuk melipatgandakan PDB per kapita dalam dasawarsa ini, dengan asumsi pertumbuhan rata-rata lebih tinggi, sebesar 6%, antara 2025-2030.

Persiapan untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur, dengan nama Nusantara, sedang berlangsung. Pembangunan ibu kota baru akan selesai dalam dua dasawarsa mendatang. Dengan pemilihan presiden dijadwalkan pada 2024, pemerintahan berikut diharapkan meneruskan proyek infrastruktur ibu kota, memenuhi kebutuhan pembiayaan, selain memindahkan kantor pemerintah dan regulator selama beberapa tahun ke depan.

Kepentingan ekonomi, strategis, dan diplomatik Indonesia secara keseluruhan mencerminkan preferensi untuk “mempertahankan sikap seimbang” terhadap geopolitik, menahan diri tidak terlibat dalam pertikaian bilateral, sambil mempertahankan kedaulatan wilayahnya dan juga kawasan ASEAN. Dalam bidang ekonomi, pemerintah secara antusias terlibat dalam perjanjian perdagangan/ekonomi regional dan bilateral.

Selain sebagai salah satu anggota pendiri ASEAN, Indonesia meratifikasi perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada tahun lalu dan merampungkan/dalam tahap konsultasi lebih dari 40 perjanjian multilateral/perdagangan bebas, kata Asia Regional Integration Center (ARIC).

  1. Perkembangan positif digitalisasi

Jumlah pengguna Internet di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan tercepat di antara negara tetangga di Asia Tenggara. Pengguna Internet mencapai sekitar 80% dari penduduk (berdasarkan atas data DBS), dengan pergerakkan dipercepat oleh pandemi. Di antara pengguna baru, lebih dari setengahnya berasal dari wilayah non-metro, yang membuktikan bahwa digitalisasi membantu mengatasi kesenjangan urbanisasi (e-Conomy SEA oleh Google, Bain & Kajian Temasek pada 2020).

Selain itu, lebih dari 90% konsumen baru berencana terus menggunakan layanan digital, yang membuktikan bahwa mereka adalah konsumen setia digital. Adopsi pengguna digital di perkotaan menjadi yang tertinggi, yaitu 89% untuk e-commerce, 60% untuk belanja, 79-80% untuk transportasi, dan pengantaran makanan, kata kajian itu dalam terbitan 2022.

Penetrasi semakin dalam dan minat semakin besar terhadap aplikasi menyebabkan nilai barang dagangan bruto (GMV) melonjak 22% menjadi USD77 miliar pada 2022 dan akan meningkat dua

kali lipat menjadi USD130 miliar pada 2025, kata kajian tersebut. Secara terpisah, pembayaran digital juga mencatatkan penetrasi tinggi, dengan nilai transaksi elektronik naik 26,1% secaratahunan pada Januari 2023 dan transaksi perbankan digital naik 28% secara tahunan.

Selain dorongan konsumen lebih luas, revolusi digital di Indonesia juga berkembang pesat. Sebagai contoh, survei Startup Ranking menunjukkan bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN dalam kelompok sepuluh besar dalam hal jumlah perusahaan rintisan (startup), yang sebagian besar terpusat di wilayah Jabodetabek, wilayah metropolitan Jakarta.

Penduduk muda dan melek digital menetapkan basis lebih tinggi untuk peluang pengembangan, termasuk prasarana lunak lebih baik, yang akan berujung pada produktivitas tinggi tenaga kerja, kemampuan manufaktur lebih baik, inklusi keuangan, penguatan infrastruktur sosial, serta limpahan positif dari teknologi baru, seperti, AI/Internet of Things, dan lain-lain.

Selain berbagai variabel tersebut, masih banyak unsur pendukung lain yang berperan dalam menjadikan Indonesia terdepan di kawasan Asia Tenggara. Untuk mengupas lebih dalam, Bank DBS Indonesia akan menghadirkan DBS Asian Insights Forum dengan tema ‘Indonesia’s Pivotal Role to ASEAN Economy’ pada 15 Maret 2023 yang mempertemukan berbagai praktisi dan pakar ekonomi dan politik guna mencermati peran Indonesia di ASEAN. Forum ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan.

banner