banner
Berita

Anak-Anak Wajib Puasa Gak ya?

1131 views

Jakarta – Majalahcsr. Di negeri dengan 4 musim, bulan Ramadan yang bertepatan dengan musim panas membuat aktivitas berpuasa jadi berat dan berisiko bagi kesehatan. Suhu tinggi berkolaborasi dengan waktu puasa panjang membuat cadangan energi semakin cepat habis, akibatnya membikin tubuh lemas dan kurang fokus.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terkena efek tersebut.

Tubuh manusia mulai dikategorikan berpuasa delapan jam setelah makan terakhir. Ketika tubuh selesai melakukan mekanisme pencernaan, kadar gula darah dan insulin akan turun. Usus kemudian merespons kondisi ini dengan memproduksi ghrelin (hormon lapar) dan mengirimnya ke otak, menginformasikan bahwa tubuh lapar dan memerlukan asupan energi.

Otak lalu membalas dengan perintah pelepasan hormon neuropeptida Y untuk merangsang nafsu makan. Saraf dalam usus akan mengirim informasi “kenyang” ke otak ketika mereka mulai mencerna makanan. Namun ketika tak ada makanan masuk, maka alur kerja usus-otak kembali pada sistem awal.

Saat mencapai kondisi tersebut, mekanisme tubuh mulai mencari sumber energi cadangan dengan membakar lemak. Jika dilakukan dalam jangka waktu panjang, aktivitas berpuasa dapat memicu dehidrasi, disorientasi, kurang fokus, limbung, bahkan pingsan. Seperti yang dilansir oleh Tirto.id, efek tersebut akhirnya membuat dokter-dokter di Jerman tidak merekomendasikan anak-anak berpuasa.

Asosiasi Profesional Dokter Anak Jerman justru meminta mereka minum dan mendapat asupan cairan cukup, terutama pada siang hari. Eropa memiliki waktu berpuasa lebih lama dibanding Indonesia, selisihnya sekitar lima jam. Di sisi lain selama puasa, anak-anak di Jerman harus tetap bersekolah karena bulan itu bertepatan dengan pekan sibuk pada kalender pendidikan mereka.

Wajar saja puasa tak dianjurkan bagi mereka karena dapat memengaruhi performa di sekolah. “Kami selalu menemukan anak-anak yang pucat dan tidak fokus selama Ramadan,” ungkap dokter-dokter di sana.

Kebanyakan anak-anak tersebut mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, bahkan pingsan seusai jam pelajaran. Tak hanya di Jerman, anjuran tidak puasa bagi anak juga terjadi di Inggris. Sekolah Dasar Barclay di Leyton, London bahkan sampai mengirim surat khusus kepada orangtua siswa untuk membujuk anak-anak mereka tak berpuasa. Guru di sekolah ini seringkali mendapati anak didiknya jatuh sakit, pingsan, dan tidak fokus dalam menerima pelajaran saat puasa.


“Puasa jatuh ketika jadwal hari-hari olahraga dan kunjungan lapangan. Jika tetap mau berpuasa, lebih baik dilakukan pada akhir pekan,” tulis surat imbauan tersebut.

Namun, meski tak dianjurkan oleh para dokter dan guru, Badan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) justru menyatakan puasa sebagai aktivitas yang cenderung aman dilakukan anak. Mereka menyatakan tahapan berpuasa harus disesuaikan dengan umur anak. Puasa bisa mulai diajarkan pada anak-anak di bawah tujuh tahun dengan catatan hanya dilakukan dalam beberapa jam saja.

Puasa penuh baru dianjurkan bagi anak yang telah memasuki pubertas, yakni ketika anak perempuan mulai tumbuh payudara dan menstruasi, dan pada laki-laki saat sudah terjadi perubahan suara. Lazimnya, tanda-tanda ini mulai muncul ketika anak masuk usia 11-12 tahun.

Keywords: , ,
banner