× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Anak-anak Morotai Belajar Pariwisata Berkelanjutan

By Redaksi
Anak-Anak Morotai - Mongabay

Pariwisata merupakan sektor yang diyakini makin maju dan memberikan porsi besar bagi kesejahteraan masyarakat pengelolanya. Maka beruntunglah anak-anak muda Morotai, kawasan yang masuk kawasan tepi wilayah utara Indonesia, mendapatkan pengajaran dari Yayasan A Liquid Future. Diharapkan generasi muda di salah wilayah kepulauan Halmahera ini bisa membangun pariwisata di daerahnya secara mandiri.

Yayasan A Liquid Future merupakan sebuah lembaga nirlaba dari Inggris, yang didirikan oleh Elizabeth Murray. Sebelum di Morotai, yayasan ini telah melakukan pendampingan di Sumatera dan Bali. Di Morotai, seorang warga Desa Bido, Maria Megawati Maail dipilih sebagai direkturnya. Elizabeth sendiri dibantu dua rekannya dari Inggris membantu pengajaran Bahasa Inggris dan surfing.

Sebanyak 1.200-an anak berusia 7 hingga 16 tahun, yang berasal dari berbagai desa, ikut belajar. Pembelajaran dilakukan di sebuah rumah sederhana tak jauh dari bibir pantai. Pendidikan tersebut bertujuan mempersiapkan anak-anak memahami aneka hal terkait pariwisata. Pada saatnya, ketika para wisatawan datang, mereka tak hanya menjadi penonton, melainkan terlibat. Anak-anak dididik memiliki perspektif wisata berkelanjutan. Mereka dibekali pengenalan dan pemahaman fungsi lingkungan, konservasi alam atau perlindungan sumberdaya hayati. Selain Bahasa Inggris, mereka juga belajar komputer, konsep turisme berkelanjutan, fotografi, dan jurnalisme warga.

Anak-anak antusias mengikuti tiap proses pembelajaran. “Saya senang bisa di sini, jadi bisa berbahasa Inggris, jalankan komputer, berselancar dan paham betapa penting menjaga alam dan lingkungan,” ujar Hosea Kania, seperti dikutip Mongabay Indonesia. Siswi SMP ini senang, karena meskipun jauh di pelosok negeri tetapi bisa mendapatkan banyak pengetahuan.

Di tempat ini Hosea belajar surfing,membuat foto, video, dan film pendek, maupun menulis untuk memperkenalkan tempat mereka ke dunia luar melalui media sosial. Tujuh bulan belajar, Hosea telah mahir surfing, bahkan sudah mendapatkan tugas menjadi instruktur bagi pemula.

Selain aneka pelajaran, anak-anak Morotai juga diperkenalkan pada praktik menjaga lingkungan. Di antaranya mereka diberi kewajiban mengumpulkan sampah, terutama sampah plastik.

Elizabeth, selain sebagai pendiri juga menciptakan konsep pembelajaran. Misalnya ia melakukan pendekatan melalui kecintaan anak-anak terhadap laut. Dari situ mulai dikenalkan pada kepedulian terhadap lingkungan. Misalnya, melalui surfing dan snorkeling, mereka melihat karang dan ikan-ikan indah. Harapannya, tumbuh kecintaan terhadap laut dan tergerak melindungi. “Dengan mencintai laut, otomotis ikut melindungi. Dari sini anak-anak memiliki motivasi,” katanya.

Diawali dengan kecintaan terhadap selancar, lalu mereka diajak bicara soal perlindungan terumbu karang, bahaya sampah plastik, dan lain-lain. Mereka juga belajar menulis isu lingkungan, semisal sampah plastik dan bahayanya, serta lingkungan kotor yang berbahaya bagi kesehatan. “Ini dasar mereka lebih peduli, cinta, dan melindungi alam mereka berada.”

Saat mengunjungi base camp anak-anak pantai Morotai ini, kita disuguhi lukisan dan pesan-pesan tentang menjaga bumi atau kekayaan hayati di laut dan darat. Seperti sebuah mural di dinding yang bertuliskan:”Laut Penuh Plastik, Semua Mati.”

A Liquid Future membuat akun media sosial dengan nama Morotai Daloha atau Morotai Indah. Akun ini mempublikasikan hasil karya foto dan video, sekaligus menyediakan panduan bagi siapa saja yang senang diving, snorkeling, dan berselancar. Yayasan juga melakukan kerjasama dengan Yayasan Conservation International dan Save the Waves. Mereka membuat dua tempat penting di Morotai yakni Morotai Jaya dan Morotai Utara, bagi komunitas selancar dan penyuka keindahan alam.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]