× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ajak Disabilitas, Specialpreneur Peluangkan Kewirausahaan Bernilai Lokal

By Redaksi
Talkshow Specialpreneur. Foto: campaign.com

Penyandang disabilitas menjadi bagian dari keberagaman. Sayangnya, di negara dengan sekitar 23 juta penyandang disabilitas ini, sejumlah hambatan dan ketidaksetaraan membuat penyandang disabilitas tidak menjadi masyarakat yang produktif. Hal ini tercatat dalam data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016 yang menunjukkan masih ada sekitar 12 juta penyandang disabilitas yang belum bekerja.

Talkshow Specialpreneur. Foto: campaign.com

Di Jambi sendiri, jumlah penyandang disabilitas mencapai 17 ribu orang. Dalam upaya mengatasi ketidaksetaraan hak penyandang disabilitas untuk bekerja, Specialpreneur hadir dengan mengusung upaya pemberdayaan dan kewirausahaan. Dengannya, diharapkan hal ini dapat meningkatkan taraf hidup penyandang disabilitas agar lebih berkualitas dan mandiri.

“Kewirausahaan dapat menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi dan kreativitas teman-teman disabilitas untuk berdaya dan berkarya di masyarakat, khususnya di daerah. Karena, seperti yang kita ketahui bersama tidak banyak perusahaan di daerah yang dapat merekrut teman-teman disabilitas untuk bekerja,” ujar Siti Maidina, Founder Specialpreneur.

Specialpreneur kemudian mengadakan talkshow bertajuk “Creation Without Limit: Embracing Inclusivity Through Entrepreneurship”. Talkshow ini didukung @america dan Campaign.com serta turut menghadirkan sejumlah tokoh entrepreneur dan aktivis disabilitas, seperti Iim Fahima, Ratnawati, Fanny Evrita dan Yayasan Rawinala untuk berdiskusi bersama mengeksplorasi terkait peluang kewirausahaan para panyandang disabilitas untuk menuju masyarakat yang inklusif.

Tengkulup Penutup Kepala Wanita Khas Jambi. Foto: campaign.com

Melalui kewirausahaan, para penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan untuk menerima kondisi dan pengenalan terhadap diri sendiri. Selain itu, mereka berkesempatan menjadi SDM yang terampil, dan melahirkan ide bisnis atau produk pengembangan usaha agar mandiri. Potensi kewirausaaan para penyandang disabilitas bimbingan Specialpreneur juga diselaraskan dengan kearifan lokal daerah. Mereka diberdayakan untuk mengangkat potensi lokal ke dalam sebuah inovasi produk.

“Salah satu produk kami mengangkat warisan budaya Jambi, yaitu Tengkuluk, penutup kepala tradisional khas perempuan Melayu Jambi. Kami kreasikan itu mengikuti tren dengan memberdayakan teman-teman disabilitas binaan dalam proses pembuatan kain hingga penjahitan,” tambah Dina.

Sementara itu, Eka, penyandang daksa berusia 19 tahun yang juga anggota binaan Specialpreneur menuturkan, “Sejak di SLB dulu saya ikut pelatihan menjahit tengkuluk dan produk kami digunakan setiap HUT daerah. Saya senang bisa berkarya dan sebelumnya saya juga mendapatkan beasiswa kursus dari Specialpreneur dan sekarang membuka jasa jahit di Rumah Kreasi Specialpreneur.”

Specialpreneur sendiri merupakan salah satu pemenang program Young Changemakers Social Enterprise Academy, sebuah program peningkatan kapasitas yang digagas @america bersama Campaign.com. Specialpreneur juga mengajak masyarakat untuk mendukung dunia yang inklusif lewat kampanye #DukungDisabilitasBerkarya di aplikasi Campaign #ForChange. Setiap satu aksi yang dilakukan, masyarakat sudah menyumbangkan lima ribu rupiah untuk proyek pemberdayaan dan kewirausahawan disabilitas yang dilakukan Specialpreneur.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]