× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Agung Pecunk, Musik Botol, dan Kelola Limbah Botol

By Redaksi
Musik Botol - Foto: Agung (dok. pribadi)

Bagi penikmati musik alternatif tanah air, terutama warga Bandung, pasti tak asing dengan nama Cherry Bombshell. Band ini lahir pada pertengahan 90-an, mengusung musik yang masih terhitung sealiran dengan pendahulunya, Pure Saturday. Kali ini kita tak bahas bandnya, tapi hal menarik yang dimunculkan salah satu personilnya, Agung Pecunk. Pemain bass Cherrbomb ini menciptakan alat musik berbahan limbah. Hasilnya memuaskan, baik sebagai sebuah inovasi di dunia pertunjukan, maupun sebagai bagian dari upaya mengurangi limbah. Tak hanya itu, Agung menerima ganjaran nilai terbaik dalam ujian akhir pasca sarjananya.

Ditemui di cafe yang dikelolanya, Kopi Tarik Ulur, Agung mengaku alat musik berbahan limbah merupakan temuan tak sengaja. “Saat memotong kaca, saya mendengar ada bunyi-bunyi yang unik. Lalu saya kumpulkan botol-botol, susun, membuatnya menjadi sebuah harmoni,” tutur pria bernama asli Agung Pramudya Wijaya ini.

Agung sendiri mengaku mensyaratkan dua hal sebagai pertimbangan saat menciptakan sesuatu yang baru, yakni unik dan sulit. Ia melihat keunikan bunyi-bunyian dari aneka limbah botol. Dan menciptakan alat musik sendiri tentu saja tak mudah alias sulit. Berbeda halnya kalau ia sekadar membuat adaptasi atau pembaharuan dari musik pertunjukan yang sudah ada. Maka demikianlah, Agung mengajukan temuannya untuk ujian S2-nya di Institut Senin Budaya Indonesia (ISBI), Bandung.

Temuannya ini awalnya dipertanyakan oleh tim penguji. Namun akhirnya ia mendapat persetujuan hingga saat presentasi berupa pertunjukan musik yang oleh para pengujinya dianggap inovatif dan eksploratif. Pertunjukan dilangsungkan pada September 2016 dengan tajuk “Suara Limbah.”

Bahan-bahan yang digunakan Agung untuk alat musiknya sebagian besar berasal dari limbah, seperti botol air minum kemasan, botol wine, dan senar bekas rem atau kopling kendaraan. Dipadu dengan material lain seperti bambu. Alat musik berbahan limbah ini di antaranya adalah Gestol (Gesek Botol), Karintol (Karinding Botol), Bittol (Cubit Botol), Gittol (Gitar Botol), Basstol (Bass Botol), dll.

Berkat alat musik limbah yang kemudian dinamai Musik Botol tersebut, Agung telah banyak hadir dalam pagelaran musik, diundang oleh berbagai media televisi dan aneka instansi, baik hadir sebagai penampil maupun untuk berbagi tentang karyanya.

Karya Tak Sengaja

Agung bukan pemain baru dalam pemanfaatan limbah. Sebelum memunculkan musik limbah untuk tugas akhir kuliah, ia telah memanfaatkan aneka limbah botol untuk berbagai dekorasi. Persisnya sejak 2013. Saat itu yang ada dalam benaknya adalah menjadikan sebuah barang bermanfaat. Pilihannya adalah khusus botol kaca, terutama botol-botol yang bentuknya tak biasa. Unik dan sulit, itulah pertimbangannya.

Pada awalnya Agung tak terpikir untuk mengomersilkan karyanya. “Bikin produk niatnya bukan untuk dijual, tapi berkarya saja. Saya kan suka iseng orangnya. Iseng bikin sesuatu yang berbeda,” ungkap dosen Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung ini. Tak dinyana, setelah karyanya jadi dan dibagikan di media sosial, banyak yang penasaran. Seorang kawan menawarinya pameran. Agung menolak, karena tak terlintas di benaknya untuk membuat produk massal. Sang teman berhasil meyakinkan, dan iapun mengikuti pameran yang digelar di Selaras, Taman Cibenying, Kota Bandung.

Masalah berikutnya adalah penentuan harga. Ia lalu berkonsultasi dengan pebisnis lampu kenalannya. Saat mendapatkan masukan tentang harga, ia masih tak yakin. Dianggapnya terlalu mahal. Maka ia mengambil harga tengah, dari pertimbangannya sendiri dengan harga saran dari sang kawan. Ketakyakinan Agung ternyata tak beralasan. Benar si kawan, produknya disukai pengunjung pameran. Lampu hias berbahan botol limbah yang akhirnya dihargai Rp 1,2 juta itu laku.

Belajar dari pameran pertamanya tersebut, Agung mulai percaya diri untuk mengikuti pameran-pameran yang lain. saat mengikuti Trade Expo Indonesia yang mendatangkan buyer dari 180 negara, seorang buyer dari Amsterdam ingin membeli produknya dalam jumlah ribuan. “Wah, ngga sanggup. Selain bakal jadi mass product, tak lagi unik, cari botolnya juga susah,” ungkapnya. Botol yang digunakan Agung memang botol-botol langka, seperti botol kimia ataun botol minuman. Ia banyak kerjasama dengan bartender dan membelinya berkali lipat dari harga pengepul. Tak jarang ia mendapatkan botol unik dari pemulung.

Karena tingkat kesulitannya yang terhitung tinggi, Agung tidak membuat banyak stok produk. Ia hanya memproduksi jika ada pesanan. Proyek terakhir yang dikerjakannya adalah untuk kebutuhan desain hotel dan cafe, di Singapura dan Surabaya. Sebagian karyanya untuk dekorasi bisa dilihat di Kopi Tarik Ulur, Jl. Terusan Cigadung No. 6, Bandung.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]