× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Adopsi Fungsi Bulu Unta, Ilmuwan Kembangkan Material Tahan Panas Bebas Listrik

By Redaksi
Bulu Unta yang Melindungi dari Panas Berlebih. Foto : MIT/Pixabay. Photo edit: Luana Steffen via Intelligentliving

MajalahCSR.id – Unta memang bisa tahan saat berada di kondisi suhu ekstrim seperti di gurun yang gersang. Ternyata ada sistem di tubuhnya yang membuat tubuhnya tetap sejuk di tengah suhu terik gurun yang membakar. Mereka memiliki bulu tebal yang berfungsi sebagai penyekat yang membuat suhu tubuhnya tetap sejuk sehingga menahan air di perutnya tak menguap karena suhu panas di tengah gurun.

Sejumlah ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, mengaku terinspirasi dari sistem tubuh unta tersebut untuk membuat material yang bisa menjaga produk khusus, seperti produk segar atau obat-obatan tetap dalam kondisi dingin di wilayah panas tanpa memakai listrik.  

Seperti diketahui bulu yang tumbuh di seluruh permukaan kulit unta menjadikan suhu tubuhnya tetap sejuk dan tak berubah. Bahkan saat unta berjalan dalam cuaca terik dan suhu yang demikian panas di gurun, bulu tersebut tetap bisa melindunginya dari dehidrasi. Cara kerjanya seperti ini, bulu  melindungi unta dari panas lingkungan dan di saat bersamaan kulitnya mengeluarkan uap keringat. Hal ini menyebabkan suhu tubuhnya tetap stabil.

Bulu unta nyatanya dalam kondisi berkeringat, tapi tak sebanyak saat bulunya hilang. Tes yang dilakukan sekelompok periset memperlihatkan, unta yang bulunya dicukur bakal hilang kelembaban tubuhnya hingga 50% dibanding yang berbulu.  

Tim asal MIT ini mengembangkan material buatan yang memiliki fungsi sama. Material ini terdiri dari lapisan hidrogel dengan lapisan paling atasnya aerogel silika yang berpori. Saat gel bagian atas mendapat hawa panas dari luar, hidrogel – yang terbuat dari 97% air – mulai menguap, dan hal ini menjadikan suhu gel tetap dalam kondisi dingin.  

Aerogel tersebut berpenghantar suhu ultra dingin yang melindunginya dari serapan panas berlebih dari lingkungan. Oleh sebab itu, hidrogel yang ada di lapisan bawahnya tetap dingin dalam waktu lebih lama, sehingga dampak uap dingin pun menjadi bertambah panjang.

Saat menjalani tes di laboratorium, sebanyak 5 mm lapisan air hidrogel hilang menguap dalam 40 jam pada suhu 30°C. Pada saat ditambahkan 5mm lapisan aerogel, waktu yang dibutuhkan lebih lama hingga 200 jam. Kesimpulannya, penambahan aerogel ini mampu menurunkan suhu 7°C. Saat hidrogel habis, material ini bisa mengganti unsur air yang hilang.

Namun, yang menjadi hambatan, produksi aerogel membutuhkan peralatan yang massif dan mahal. Para pakar di MIT tengah mengembangkan alternatif upaya agar aerogel ini bisa diproduksi lebih praktis dan murah.  Tujuan utama dari material ini agar bisa digunakan di negara berkembang atau negara minim infrastruktur untuk pengapalan atau penyimpanan makanan serta obat.

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]