× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

8 Perusahaan Global yang Produknya dari Bahan Daur Ulang (Bagian 2)

By Redaksi
Brand Looptworks dari Daur Ulang Limbah. Foto : Istimewa

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari artikel sebelumnya tentang 8 perusahaan global yang produknya daur ulang sehingga terjadi proses ekonomi sirkular.

  • RECOVER BRANDS

Dari namanya, ada yang sudah bisa menebak produk perusahaan ini dari bahan apa? Ya, Recover Brands memilih bahan dari limbah sebagai produk apparel mereka. Recover Brand merupakan perusahaan yang memproduksi busana dan asesoris. Semua produk Recover Brands yang keren ini ternyata terbuat dari limbah produk lain, mulai dari ceceran benang katun di lantai pabrik pemintalan, sampai benang polyester yang terbuat dari daur ulang tong plastik dan botol plastik minuman.

Brand Recover Brands dari Daur Ulang. Foto : Istimewa

Bill Johnsons dan John Riddle adalah orang di balik  perusahaan. Dua orang yangsaling berteman ini adalah penyuka kegiatan outdoor sekaligus pecinta lingkungan. Dari kesukaan yang sama mereka menjumpai masalah lingkungan dari pencemaran limbah plastik. Walhasil muncul ide untuk mendirikan perusahaan berbasis ramah lingkungan.

Pada praktiknya, Recover Brands bahkan mengurangi penggunaan pewarna di produk apparel-nya, menghilangkan kemasan plastik, dan mereka memiliki pabrik yang rendah konsumsi energi. Produk mereka cukup lengkap mulai busana pria, wanita, serta anak-anak termasuk perlengkapan hiking, berenang, dan kemping.

  • COTOPAXI
Apparel Cotopaxi. Foto : Istimewa

Menjual produk busana dan perlengkapan outdoor, Cotopaxi menggunakan wool dari bulu llama (sejenis unta dari Amerika Selatan) yang terbuang dari pabrik. Cotopaxi memanfaatkanlimbah dan berupaya meminimalisasikan sampah saat proses produksi berjalan. Selain peduli lingkungan, perusahaan juga mengalokasikan 2% dari keuntungannya untuk mengatasi persoalan kemiskinan di dunia. Tak cuma itu, aksi terpuji lain, Cotopaxi berperan dalam peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan di wilayah miskin di dunia dan juga memberikan kesempatan meningkatkan kehidupan perekonomian warga di sejumlah negara tertinggal.

  • LOOPTWORKS

Jika 2 brand sebelumnya di lini apparel, Looptworks adalah brand tas dan asesoris yang bermaterialkan daur ulang. Nama Looptworks ternyata diambil dari proses pabrikasi closed-loop manufacturing (CLM), artinya pengecekkan di bidang produksi dan mesin selama proses, sehingga menghasilkan pengurangan ongkos sekaligus meningkatkan kualitas produk. Pabriknya sendiri berada di Portland, negara bagian Oregon, Amerika.

Brand Looptworks dari Daur Ulang Limbah. Foto : Istimewa

Untuk mendapatkan bahan baku tas, perusahaan bekerja sama dengan pengumpul dan penampung limbah barang bekas. Kegiatan ini secara signifikan mampu mengurangi volume sampah di wilayah mereka sekaligus menekan emisi. Looptworks juga dikategorikan perusahaan B. Kategori ini diberikan bagi perusahaan yang aktif berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.

  • TERRACYCLE

Perusahaan ini bahkan mencintai limbah (untuk diolah dan kembali dijual). Perusahaan mengumpulkan barang-barang apapun yang dibuang dan sekiranya bisa kembali digunakan. Barang-barang itu kemudian “direkonstruksi”sehingga bernilai jual, lalu memasarkannya ke perusahaan lain (yang juga mengumpulkan barang bekas) atau bahkan menjualnya ke pemerintah setempat. Material yang dikumpulkan merupakan bahan yang tak bisa didaur-ulang lagi karena kondisinya sangat “berantakan”, atau material yang sulit teridentifikasi jenisnya. Terracycle ternyata  punya jaringan yang dan sumberdaya yang bisa merekonstruksi kembali barang-barang “tak berjenis” itu.

Terracycle si Pendaur Ulang. Foto : Istimewa

Produk Terracyce tak lantas membuat konsumen merasa hanya berdonasi pada lingkungan saja. Namun karena barangnya sangat fashionable, praktis dan tahan lama sehingga konsumen pun mendapat “value” lain. Hal menarik lain, perusahaan juga berkomitmen untuk tetap transparan dalam melakukan aktivitasnya.

Terracycle mengedukasi konsumennya soal cara mendaur-ulang dan bagaimana cara memproduksi item mereka. Walhasil, konsumen pun bisa menyampaikan informasi bermanfaat tersebut ke orang terdekatnya. Hal ini menimbulkan ikatan antara perusahaan dan konsumen atas dasar persamaan komitmen terhadap keberlanjutan.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]