× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

8 Berita Sustainability Menarik di Tahun 2019 (Bagian 2)

By Redaksi
Kendaraan Listrik. Foto : Istimewa

Di bagian sebelumnya dibahas 4 berita seputar lingkungan 2019 yang dirangkum oleh pemerhati lingkungan Andrew Winston.  Di bawah ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

5. Investasi Keberlanjutan Makin Berkembang

Investasi di bidang keberlanjutan di 2019 kian popular, atau katakanlah jadi “mainstream”. Data mengungkap deposit dana terkait keberlanjutan mengalami peningkatan. Meski dirasa seolah anekdot, faktanya sebuah perubahan bisa mempengaruhi institusi keuangan besar. Tak bisa dipungkiri pula, keinginan pelanggan adalah hal yang paling mempengaruhi arah investasi. Ledakan obligasi “hijau” dimana banyak perusahaan meminjam permodalan untuk proyek keberlanjutan mereka mulai terjadi.    

Isu keberlanjutan di tahun 2019 ditandai juga percepatan investasi beralihnya penggunaan energi fosil ke energi alternatif. Sebuah grup investor yang memiliki aset 11 triliun dolar Amerika, perusahaan investasi Norwegia yang beraset 1 triliun dolar, asuransi raksasa asal Perancis AXA, bank-bank investasi di Eropa, mulai menarik diri dari pembiayaan industri energi fosil.

Ada banyak kesadaran yang tumbuh terhadap perubahan iklim. Selanjutnya, mensolusikan masalahnya melalui kebijakan yang berdampak ke berbagai bidang termasuk keuangan dan bidang lainnya.

6. Lebih banyak Perusahaan yang Berpihak

Kini banyak perusahaan yang lebih peka pada situasi atau isu sosial sekeliling mereka.  Raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Salesforce, Apple mengeluarkan dana hingga miliaran dolar untuk membantu tunawisma yang tak jauh dari kantor pusat mereka. Sementara itu, Walmart menjadi yang terdepan untuk menaikkan standar upah karyawan. Mungkin tidak semua perusahaan melakukan hal tersebut, Tapi setidaknya muncul tren perusahaan yang lebih peka terhadap isu yang berkembag di sekelilingnya. Kondisi ini pun memicu pujian sekaligus kritikan berimbang yang menyehatkan secara sosial.

7. Burger Nabati jadi Pionir di Produk Makanan Sehat

Tahun 2019 kemarin juga ditandai dengan munculnya beragam menu sehat dari sejumlah restoran siap saji. Burger King, McDonald’s, Dunkin’ Donuts, Subway, KFC, Carl’s Jr menawarkan menu yang mengedepankan unsur nabati alih-alih tetap memprioritaskan menu daging. Menu tersebut kini tak lagi disukai para vegan, melainkan juga para konsumen lain. Pergantian ini tentu sedikit banyak berpengaruh pada jejak emisi karbon. Seperti diketahui, aktivitas peternakan punya peran punya peran yang signifikan sebagai penghasil emisi. Diperkirakan lebih dari seperempat emisi secra global ditimbulkan dari kegiatan peternakan.

Bisnis makanan konvensional perlahan mulai menyesuaikan dengan yang disebut “regenerative agriculture”. Metode produksi baru ini diharapkan bisa lebih menjamin stok persediaan makanan dunia termasuk protein hewani di tengah upaya menurunkan emisi karbon sekaligus menjadikan tanah kaya mineral dan membantu mengantisipai perubahan iklim.

CEO produk pangan Danone, Emmanual Faber menyampaikan pada PBB, “Sistem pengelolaan pangan konvensional yang dilakukan hingga saat ini adalah ancaman bagi ketersediaan pangan di masa depan.” Sehingga perlu perubahan metode seperti yang disebutkan di atas.

8. Teknologi Hijau Kian Berkembang terutama Kendaraan Listrik  

Ada beberapa hal menarik di sini:

Teknologi ramah lingkungan makin berbiaya murah.  Panel surya dan perangkat energi tenaga angin harganya makin ramah. Biaya pembangkit tenaga batubara dikatakan menjadi tiga perempat lebih mahal dibandingkan membangun infrastruktur energi terbarukan. Bahkan pada April 2019, Amerika untuk pertama kalinya lebih banyak mengonsumsi energi dari sumber terbarukan daripada batubara. Sementara di Inggris, Swedia, Denmark, Portugal, Nikaragua dan Kosta Rika mulai mengadopsi energi terbarukan dan menurunkan konsumsi energi fosil.  Korporasi pun tak mau ketinggalan. Di semester pertama 2019, korporasi di dunia meningkatkan konsumsi energi terbarukan lebih dari 20% dibanding tahun sebelumnya.   

Kendaraan listrik mulai massif diproduksi. Jumlah kendaraan listrik memang cukup kecil diantara kendaraan konvensional. Tapi pertumbuhan teknologi kendaraan listrik juga makin meningkat dan diterima oleh konsumen. Contohnya, mobil listrik premium yang diproduksi pabrikan Tesla cukup laris penjualannya secara global. Di pihak lain, China memiliki 400 ribu bus umum di jalanan, sementara kendaraan kecil seperti bajaj yang berjumlah 60 juta di India sudah memakai tenaga listrik.

Penemuan dan pengembangan seperti ini yang bisa meredam emisi karbon yang sedang mengancam. Industri baja Thyssenkrupp di Jerman bahkan memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan panas 1000°C dalam pembuatan baja, kaca, serta semen bangunan.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]