× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

8 Berita Sustainability Menarik di Tahun 2019 (Bagian 1)

By Redaksi
Greta Thunberg. Foto : Istimewa

Tahun 2019 baru saja ditinggalkan. Ada beberapa catatan penting seputar kabar lingkungan di tahun kemarin. Seorang penulis bernama Andrew Winston yang dilansir dari Harvard Business Review berhasil merangkum 8 (delapan) berita lingkungan penting pada 2019.

Tema-tema lingkungan termasuk didalamnya soal perubahan iklim mendapat porsi banyak. Berita-berita termasuk gelombang panas parah di Eropa, hujan es di Meksiko, banjir besar di Nebraska, kebakaran semak yang sulit teratasi di Australia, Badai di Mozambik, Bahama. Ironisnya, bencana alam luar biasa itu masih dianggap wajar.

Perubahan iklim akan selalu jadi berita panas, ada pro dan kontra. Apalagi jika isu yang diusung dikaitkan dengan masa depan bumi. Tapi ada catatan bahwa di tahun kemarin, beberapa pihak mulai menaruh perhatian serius pada isu ini.  Berkaca dari hal ini ada 8 berita seputar lingkungan yang cukup menghebohkan di 2019. 

1. Protes Perubahan Iklim Memuncak

Pada akhir 2019, Majalah Time menobatkan gadis 16 tahun asal Swedia, Greta Thunberg sebagai “Tokoh Berpengaruh”. Pencapaian itu menjadikan Greta sebagai gadis termuda yang masuk deretan tokoh berpengaruh versi majalah bergengsi tersebut. Greta, gadis remaja biasa yang berubah jadi populer karena aksinya melawan hegemonitas dunia maju yang lebih peduli pada pembangunan ekonomi dibanding bahaya perubahan iklim. Dia memulai aksinya pada 2018 di depan gedung parlemen Swedia menyuarakan kegelisahannya soal ancaman iklim. Aksi berani gadis ini dalam waktu satu tahun, berubah jadi aksi global yang sangat massif.

Greta tanpa takut menyampaikan kebenaran pada pemimpin dunia. Di media sosial gadis ini mengumpulkan 10 juta pengikut. Pada September, di Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB di New York, Greta berhasil menyuarakan pesannya pada pemimpin dunia (kecuali Donald Trump) dan direspon. Sebelumnya pada Januari, 10 ribu remaja Belgia mendukung aksi Greta dengan berjalan tiap minggunya ke kantor pusat Uni Eropa di Brussels. Pada 15 Maret, jutaan orang di seluruh dunia melakukan aksi perubahan iklim. Pengaruh Greta ini dianggap amat luar biasa, karena sebelumya tak satupun aktivis lingkungan yang bisa menginisiasi gerakan global yang massif. 

Seorang anak muda memimpin gerakan perubahan iklim, seharusnya pihak swasta memperhatikan ini. Gadis muda dari generasi Z ini akan menjadi subjek politik, konsumen produk, sementara generasi Z dan milenial adalah setengah dari angkatan kerja saat ini. Seharusnya hal ini tidak mengejutkan. Sejumlah aksi kritis soal lingkungan pun muncul dari kaum pekerja. Beberapa waktu lalu, sebanyak 8.700 karyawan Amazon menandatangai surat terbuka kepada bos mereka, Jeff Bezos, meminta perusahaan lebih serius mengembangkan rencana perubahan iklim. Sementara karyawan Microsoft  pada September memprotes kebijakan perusahaannya yang dianggap mendorong krisis iklim.

Dari situasi ini disimpulkan, kelak perusahaan yang ingin merekrut karyawan terbaik dari generasi Z atau milenial, harus punya strategi perubahan iklim, kalau tidak, para calon karyawan terbaik ini memilih perusahan pesaing yang punya peta kebijakan pro lingkungan.

2. Kepedulian Krisis Perubahan Iklim Kian Serius

Pegiat lingkungan sudah lama berdebat soal isu “kesuraman dan kehancuran” apakah memotivasi atau malah membuat semua orang depresi. Agak berat mengatakannya, tapi tahun lalu ada kejadian yang menjurus pada pertanda bencana. Kenaikan suhu antara 3 sampai 4 derajat di masa mendatang diprediksikan terjadi. Bahkan penulis David Wallace-Wells dalam bukunya The Uninhabitable Earth, memastkan kepanikan yang akan terjadi.  

Komunitas ilmuwan bahkan sudah melaporkan – yang disebutkan dalam tajuk di The New York Times, “laporan kekhawatiran yang tak berkesudahan”.  Kita mendapati fakta bahwa, (1) manusia sudah mengubah daratan sedemikian rupa sehingga mengancam pangan dan kemampuan lahan menangkap karbon, (2) habitat lautan yang terganggu karena tak ada lagi koral, (3) tak perlu memperhatikan emisi masih menjadi pemahaman yang terjadi di sebagian masyarakat.

Bank HSBC bahkan mengestimasi triliunan dolar amerika bakal mengalir ke industri kesehatan jika terjadi pembiaran bahaya perubahan iklim. Orang-orang kini sudah mulai banyak yang menyadari pentingnya memperhatikan lingkungan keberlanjutan. Kita juga bisa melihat ongkos ekonomi yang mahal saat terjadi perubahan iklim; banjir, longsor, badai yang kian berbahaya, butuh penanganan pasca bencana yang tentu aja berbudget mahal.  

3. Rencana Negara dan Swasta dalam Penanganan Perubahan iklim kian Menguat

Tahun 2019, diwarnai 2 catatan proposal penting di Amerika dan Uni Eropa; (1) proposal “the Green Deal” di Amerika, dan (2) Kesepakatan Hijau Uni Eropa (EU’s Green Deal) dengan prinsip ekonomi sirkular. Orang bisa saja menilai proposal tersebut tidak realistis, namun wacana yang digulirkan tetap wajar untuk bisa didiskusikan.

Hal yang sama juga terjadi pada tujuan perusahaan yang kian “peka”. Para pengambil kebijakan di korporasi mulai mengedepankan soal keberlanjutan. Sebuah pertanda baik bagi percepatan komitmen mereka pada upaya 100 % memakai energi terbarukan (melalui grup RE100), merencanakan kebijakan berdasar studi sains (sudah lebih dari 740 perusahaan besar dunia), dan lebih agresif berkomitmen menurunkan jejak karbon dalam upaya menurunkan pemanasan global hingga 1,5°C.  

Beberapa contoh perusahaan yang berkomitmen pada isu lingkungan di 2019:

  • Amazon berupaya menurunkan 100% jejak karbon dalam operasionalnya di 2040
  • Ikea menambah anggaran 200 juta euro untuk berinvestasi penurunan jejak karbon 100% pada 2030
  • Perusahaan semen asal Jerman, Heidelberg berupaya mengembangkan kosentrat semen yang bebas karbon pada 2050
  • Ingersol Rand, perusahaan yang memiliki brand HVAC yaitu Trane, mengurangi jejak karbon konsumennya hingga 1 gigaton
  • Perusahaan makanan Kellog berencana meningkatkan kualitas hidup dari 3 miliar orang melalui produk makanan dan nutrisi dan membuka donasi untuk memberi nutrisi makanan pada 375 juta orang di seluruh dunia.    

Upaya korporasi tersebut sepintas sulit diterapkan, namun perusahaan tetap ngotot untuk mencapai masing-masing targetnya.  Contohnya, Citi yang menargetkan 100 miliar dolar untuk pendanaan iklim, berhasil dicapai lebih cepat dari rencana awal.

4. Direksi Perusahaan Pertanyakan Otorisasi Pemegang Saham dan Kapitalisme

Pada Agustus 2019, hampir 200 CEO perusahaan multinasional global mendeklarasikan tak lagi memprioritaskan soal pengembalian keuntungan saham. Tujuan perusahaan menurut mereka, kini lebih pada “memberikan nilai pada semua pemangku kepentingan”. Ini terkesan agak “lip service”. Tapi salah satu CEO bernama Pernod Richard mengatakan, “Kami ingin memahami keinginan konsumen dalam 10 tahun ke depan. Bisnis yang hanya sekedar mengejar untung semata akan mati.”

Hal sama juga terjadi pada idealisme kapitalis yang sejatinya diadopsi perusahaan. Korporasi sudah mempertanyakan konsep kapitalis yang tak lagi sesuai dengan era perubahan iklim yang terjadi. Media The Economist bahkan menyampaikan pemikirannya bagi perusahaan untuk me-reset konsep kapitalisme melalui apa yang disebut “unchained capitalism”.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]