× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Dukung Dana SDGs, Pemerintah Terbitkan Sukuk

By Redaksi

Keseriusan Indonesia dalam kampanye aksi Sustainability Development Goals (SDGs) terus diperlihatkan Pemerintah. Pemerintah mendukung aksi SDGs yang bermakna Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan penggalangan dana filantropi. Pemerintah melalui Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani menyatakan, “Kami perlu memobilisasi dana, namun tidak hanya dana Pemerintah, tapi melibatkan dana publik, swasta bahkan filantropi.” Pernyataan ini disampaikan Sri Mulyani dalam pertemuan Spring Meetings International Fund – World Bank Group 2019 (IMF-WBG Spring Meetings 2019) di Washington DC, Jumat (12/04/19) waktu setempat.

Seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet RI, Sri menyampaikan, pertama, skema filantropi untuk SDGs itu melalui blended finance atau inisiatif skema keuangan campuran. Didalamnya terdapat dana yang terkumpul berasal dari lembaga pemerintah, bank pembangunan, bank komersial, dana perubahan iklim, investor ekuitas, perusahaan asuransi, serta filantrofis lokal dan internasional.

“Untuk mengimplementasikan ambisi SDG2 diperlukan dana Rp. 6 triliun,”ujar Sri. SDGs One sampaisaatini sudah mengumpulkan Rp 2,46 miliar seak terbentuk pada Pertemuan Tahunan International Monettary Fund –World Bank Group 2018 yang lalu di Bali. Sementara langkah kedua adalah dengan penerbitan Sukuk. Sukuk merupakan surat obligasi pemerintah dalam bentuk syariah. Menkeu menontohkannya dengan Sukuk Wakalah Global yang merupakan Sukuk Hijau pertama di Indonesia dan Asia.

Penerbitan Green Bond atau Sukuk Hijau merupakan salah satu komitmen Indonesia untuk SDGs terkait isu perubahan iklim atau terkait isu lingkungan seperti energi terbarukan, transportasi berkelanjutan, pengelolaan limbah, dan bangunan hijau.

Tahun 2019, Indonesia menerbitkan Sukuk Hijau senilai USD750 juta selain sukuk jenis lainnya sebesar USD1,25 miliar.

Boleh dibilang nyaris semua masyarakat Indonesia pernah makan di warung makan semisal warung tegal atau warteg. Ya, warung makan biasanya penyelamat perut sekaligus kantong di saat lapar tapi dompet tipis. Namun, sayangnya warung makan biasanya cenderung berkonotasi miring dari sisi higienitas. Proses pengolahan menu yang buruk, bahan yang cederung asal-asalan, dan buruknya sanitasi selalu diidentikkan […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]