× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

6 Pelajaran dari Negara Penerap Sistem Energi Nol Emisi

By Redaksi
Ilustrasi Pembangkit Energi Tenaga Angin. Foto : Brian Holdsworth (Unsplash)

Memiliki sistem energi dengan nol (emisi) karbon, sangat mendesak. Program energi nol emisi butuh upaya yang cukup besar. Mulai modal infrastruktur yang mendukung, pembangkit energi terbarukan untuk kendaraan listrik, perangkat elektronik rendah energi dan desain bangunan yang “less” energi. Karena investasi yang tak sedikit, hanya sebagian kecil negara yang menerapkan kebijakan pro nol emisi karbon. Seperti dilansir dari greenbiz, China, Costa Rica, Denmark, Ethiopia dan Inggris daratan adalah negara-negara yang dimaksud.       

Bagaimana sebuah negara mencapai nol emisi karbon?

Produsen energi dan konsumennya menyumbang 3/4 emisi gas rumah kaca dunia. Walhasil, menjadikan sektor ini fokus penting penerapan standar nol emisi di seluruh negara di dunia. Ada 3 strategi utama yang jadi pedoman tiap negara dalam mengimplementasikan nol emisi karbon. Ketiga strategi itu adalah: pengoptimalisasian melalui efisiensi, mengubah ke energi listrik (pengenergilistrikan), dan penghilangan dampak karbon. Pada dasarnya tiap negara (yang ingin mencapai nol emisi), perlu untuk:

  1. Mengurangi konsumsi energi melalui peningkatan efisiensi (optimalisasi);
  2. Mengubah kebutuhan energi konvensional (pembakaran energi fosil) ke energi listrik (pengenergilistrikan); dan
  3. Mengubah seluruh energi menjadi teknologi nol emisi karbon untuk menghasilkan energi listrik (menghilangkan dampak karbon).  

Strategi ini dibutuhkan di sektor terbesar pemakai energi – gedung, transportasi, dan industri – selain tentu saja sistem pembangkit. 

Sejumlah negara yang sudah menerapkan 3 strategi ini, dapat dikenali dari perubahan pemakaian intensitas energi, derajat pemakaian piranti listrik, dan porsi pemakaian listrik yang merujuk pada sumber energi non emisi. China, Costa Rica, Denmark, Ethiopia, dan Inggris punya skor bagus dari ketiga indikator strategi tersebut. Data yang mereka miliki pun bagus dan terlihat ada kemajuan signifikan dalam rentang beberapa dekade dari dua atau lebih indikator tadi. 


* Limited to consumption by industrial, transportation and building sectors – agriculture, non-energy fuel consumption and other miscellaneous uses excluded. ** Nuclear, hydro, geothermal, solar PV, solar thermal, wind, tide Sources: Energy intensity – https://trackingsdg7.esmap.org/ ; Electricity consumption and energy consumption by sector, electricity sources – https://www.iea.org/statistics/

Indikator-indikator ini memang tak memperlihatkan secara keseluruhan kebutuhan dan langkah negara-negara dimaksud, tapi setidaknya ada data melalui IEA dan World Bank yang memungkinkan diimplementasikan oleh negara lain.  Dan oleh sebab indikator yang bersifat relatif (persentase) dibanding pengukuran yang absolut, maka setiap negara berpotensi terus menaikkan potensi positif dari indikator tersebut. 

Akhir-akhir ini terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Percepatan yang berdampak pada membesarnya kebutuhan energi. Tapi tidak setiap perkembangan ekonomi dimana ekonomi membaik, pengunaan energi dan emisi menjadi sesuatu yang terpisahkan. Untuk mencapai zero emisi, perbaikan diperlukan pada indikator tadi untuk dapat menyesuaikan kebutuhan energi yang makin tinggi.

Bagaimana 6 negara mereduksi emisi karbon mereka? Setidaknya ada 6 hal penting yang dilakukan negara tersebut:

  • Investasi energi yang efisien: China, Denmark, Ethiopia, dan Inggris sukses menurunkn intensitas energi hingga 4 %  ata bahkan lebih dalam beberapa tahun ini. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata kemampuan negara lain sebesar 2,3%. Hal ini mengindisikan mereka bisa memperbaiki tingkat efisiensi energi mereka dan menurunkan konsumsi. China, Denmark, dan Inggris telah mengatur target efisiensi energi dengan mengimplementasikannya melalui kebijakan dan program investasi untuk lebih menekan kebutuhan energi.
  • Pembangkit tenaga air: di Kosta Rika dan Ethiopia, yang mendorong semua pembangkit listrik mereka menggunakan sumber energi hijau. Pembangkit ini sejak dekade 1990-an menjadi pembangkit utama di seluruh negeri. Investasi untuk sumber energi tenaga air bahkan jauh sebelum isu kepedulian menurunkan emisi karbon. Jadi kebijakan yang dilakukan, juga berimplikasi pada faktor ekonomi, dengan memanfaatkan sumber pembangkit yang murah, dan sudah ada di negaranya. Sistem ini jelas bukanlah “warisan”: kedua negara tetap berinvestasi dengan menambah kapasitas sebanding dengan kebutuhan yang juga meningkat. Sumber tenaga air juga merupakan pembangkit listrik utama di Brasil, Kolombia, dan Kenya. Sementara, jika dirata-ratakan, seluruh negara berkembang hanya memanfaatkan 28% pembangkit energinya dari sumber non emisi (sumber bersih).
  • Investasi di pembangkit energi terbarukan (non tenaga air): Banyak negara yang memanfaatkan sumber energi terbarukan (upaya penghilangan jejak karbon  decarbonization) selain tenaga air, menggunakan tenaga angin,  surya, dan panas bumi. Kosta Rika, Denmark, dan Inggris, menggunakan sumber energi ini di dekade 1990-an dan meningkat 20% di 2017. Kenya meningkatkan kapasitas tenaga panas bumi mereka. China pertumbuhan energi terbarukannya cukup kecil dibanding kebutuhan energi mereka. Tapi lihatlah, kini mereka memiliki sumber energi terbarukan terbesar di dunia dari tenaga surya dan angin.Sementara, kemajuan dari penggunaan sumber tenaga listrik hijau – secara global – stagnan di angka 30 – 35 persen sejak 1990. Beberapa tahun berjalan memperlihatkan, adanya perubahan terutama di sumber tenaga angina dan surya, secara bersamaan pengunaan tenaga nuklir dan air cenderung menurun.  Tapi kemajuan yang terjadi pun dinilai masih lamban untuk mencapai kebutuhan energi non emisi yang sudah mendesak.
  • Pertumbuhan kesejahteraan dan modernisasi ekonomi berkaitan dengan pengenergilistrikan di sektor energi. China salah satu contoh negara yang punya pertumbuhan tinggi di bidang energi dibanding dengan kebutuhan energinya. Nyaris seperempat dari konsumsi energi negara tirai bambu adalah listrik. Dibandingkan dengan sumber energi lain seperti bahan bakar fosil dan, gas alam, dan minyak yang hanya tumbuh 6% sejak 1990.Pertumbuhan energi listrik juga terjadi di negara lain yang pertumbuhan ekonominya cukup tinggi dan dalam fase modernisasi. Negara tersebut diantaranya, India, Indonesia, Meksiko, Turki dan Uni Emirate Arab. Secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan energi listrik di negara lain sangat lambat. Hanya di kisaran 15 hingga 20 persen sejak 1990 yang pertumbuhannya didominasi negara berkembang.
*Values may not add up due to rounding.
  • Mengubah ke pemanfaatan energi listrik sangat mendesak, namun bidang transportasi justru tertinggal. Sejauh ini pasar konsumsi energi listrik hanya terdapat di sektor gedung, baik rumah tinggal maupun bangunan komersial. Secara umum, pasar energi listrik mengalami peningkatan dari awalnya 19 persen untuk sektor gedung di 1990 menjadi 31% di 2017. Pertumbuhan terutama terjadi di negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya juga pesat (Brasil, China, Kosta Rika, India dan Indonesia). Di saat bersamaan, negara berpendapatan rendah dan ekonomi berkembang, pertumbuhan energi listriknya juga kecil. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan kelas konsumen terkait kondisi ekonomi dan pembelian barang-barang listrik mereka; lampu, kipas angin, dan pengatur suhu, serta sebagain kecil rumah tangga yang memakai penghangat ruangan tradisional (pembakaran kayu). Jasa pelayanan energi – di bidang energi listrik – juga tumbuh di kategori ekonomi masyarakat ini. Sebaliknya, sektor transportasi listrik tumbuh hanya di angka 0 – 1% di berbagai negara, terlihat tumbuh sangat kecil dalam 3 dekade terakhir ini. China adalah pengecualian. Pertumbuhan mereka menyentuh 3,4 persen dari 1,6 % dalam waktu yang sama.  Ini cukup masuk akal, karena mereka mengembangkan kendaraan listrik, meskipun butuh jalan panjang untuk seluruh armada transportasinya beralih ke tenaga listrik.
  • Komitmen langsung pengunaan energi bersih, efisiensi energi dan penghapusan emisi karbon:Kosta Rika, Denmark, dan Inggris sudah menetapkan target pertumbuhan ekonomi zero emisi di 2050. Seluruh komitmen ini upaya untuk mencapai nol emisi karbon selama beberapa dekade dengan mempraktikan efisiensi energi, energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan. Negara lain bisa mencontoh langkah negara-negara tersebut untuk mencapai target zero emisi.

Menerapkan Jalan Panjang Penghapusan Karbon

Sejumlah negara memang diposisikan terdepan dalam hal penghapusan emisi karbon. Namun hal ini tidak berarti negara lain tak bisa melakukannya. Bahkan tetap bisa meskipun mereka sama sekali tak punya fondasi untuk memulainya. Belajar dari pihak yang sudah menerapkan, setiap negara bisa memetakan rencana zero emisi karbon mereka di masa depan.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]