× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

5 Hal yang Meredefinisi Sektor CSR di Tahun 2019

By Redaksi

Walaupun, semua tren terlihat mengarah ke sektor sosial yang sedang mengalami perubahan, pengaruh teknologi dan penerapan manajemen di perusahaan tetap elemen penting terhadap transformasi bidang sosial.

Saat tak ada yang bisa menjelaskan arti tepat corporate social responsibility (CSR), sudah ada dasar pemahaman  dari perusahaan terhadap bidang sosial, lingkungan, dan tanggung jawab etik yang ingin mereka terapkan. Bisnis harus memanfaatkan sumberdaya mereka dalam menangani masalah yang tak cuma berhubungan dengan perusahaan namun juga lingkungan secara umum. Dalam konteks ini, termasuk para pemangku kepentingan yang jadi bagian lingkungan tempat perusahaan beroperasi. Dan saat pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan warga, dan juga kebutuhan tersebut di luar kelayakan finansial perusahaan, sektor sosial lah yang turun tangan memenuhi kebutuhan warga tersebut.

Tak terbantahkan, sektor sosial dalam beberapa dekade berperan penting dalam banyak perubahan undang-undang, termasuk bernegosiasi dengan kepentingan politik pemerintah. Bagaimanapun, bidang sosial punya potensi implikasi besar sebagai ujung tombak program pengembangan yang seringkali gagal sebab kurangnya kemampuan pendanaan akibat ketidakcakapan kemampuan organisasi internal korporasi. Hal ini kerap menunjukkan dampak yang kurang menguntungkan dari keseluruhan dampak program CSR yang dilakukan perusahaan.

Walaupun, semua tren terlihat mengarah ke sektor sosial yang sedang mengalami perubahan, pengaruh teknologi dan penerapan manajemen di perusahaan tetap elemen penting terhadap transformasi bidang sosial. Ada 5 tren penting yang dimana ruang untuk CSR dapat lebih terlihat di tahun 2019.

 

  • LSM akan Beradaptasi dan Berkinerja Baik Lewat Cara Baru Pendanaan – Perusahaan

Lembaga Swdaya Masyarakat (LSM) dan sektor sosial lain biasanya berkolaborasi dengan masing-masing agen pemerintah atau lembaga pendanaan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor sosial ini punya partner baru di perusahaan multinasional dan perusahaan besar di India. Perusahaan ini berpartner dengan lembaga swadaya masyarakat dalam merencanakan dan melakukan inisiasi tanggung jawab sosial mereka. Sektor yang digarap pun sangat vital mulai dari edukasi, sanitasi, kesehatan, ketersediaan air bersih, dan lainnya. Kolaborasi ini  membawa sejumlah keuntungan bagi sektor sosial. Tak hanya kesempatan, bekerjasama dengan sejumlah perusahaan besar juga mendatangkan dana yang besar, selain tentunya teknologi dan sumberdaya yang dibutuhkan.

Sebelumnya LSM hanya berkutat dengan pemerintah atau pendanaan internasional. Aternatif lain, dari individu seperti pendonor kaya dan para filantropi yang tersentuh sisi kemanusiaannya. Tapi kini dengan dukungan dari perusahaan, sisi pendanaan dan pengorganisasian, sektor sosial dituntut lebih professional. LSM harus lebih mampu punya program terbaik agar bisa didanai. Sebab itu, proposal  harus lebih fokus pada aspek KPI, dampak, mudah disampaikan, merujuk pada waktu (timeline), sejalan dengan  laporan yang teratur disampaikan. Ini hal-hal baru yang mesti LSM kuasai. Saat dilakukan perubahan ini, LSM ini secara tak langsung sedang menerjemahkan visi mereka ke dalam realitas yang bisa diukur.

 

  • Perusahaan mulai Menyadari CSR merupakan Pilar Lain dari Strategi Perusahaan, Dibanding Aksi Filantropi

Isu keberlanjutan dan tanggung jawab sosial sudah menjadi pertimbangan pemimpin bisnis dan penentu kebijakan di sektor korporasi beberapa tahun belakangan. Perusahaan kini kian intens mengintegrasikan CSR ke dalam proses manajerial, pengambilan keputusan, dan strategi keseluruhan. Tujuannya tidak sekedar jadi pelaku filantropi, namun sebagai organisasi yang bertanggung jawab secara sosial. CSR bukanlah pajak, melainkan investasi dalam membangun masyarakat dan bisnis yang berkelanjutan. Dan program ini pun ternyata berdampak positif bagi bisnis perusahaan.  Berangkat dari fakta ini, seorang Chief Experience Officer (CXO) mulai memahami; mengutip Kepala Strategi dari perusahaan finansial,”Kita tak butuh strategi CSR, yang kita butuhkan menggabungkan CSR ke dalam strategi korporasi”. Bahkan pemerintah memiliki pandangan dan sikap sama dengan korporasi terhadap CSR. Menteri Korporasi (Industri) India, PP Chaudary belum lama ini menegaskan, kegiatan CSR haruslah jadi strategi jangka panjang perusahaan, bukan kegiatan sesekali.

 

  • Banyak Perusahaan akan Menghargai dan Terlibat dalam Kerja Sama Panjang dengan LSM

Untuk memetakan sektor sosial yang komplek, perusahaan butuh membangun pemahaman bidang operasi mereka. LSM beroperasi dalam beragam subsektor dari lingkungan, pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain. Masing-masing subsector ini berbeda satu sama lain dan butuh pendekatan khusus dengan segala keunikan tuntutan dan bidang isu mereka. Terlebih, dampak terukur yang butuh waktu, korporasi akan berupaya berkolaborasi dalam jangka panjang dengan LSM untuk meningkatkan pemahaman terhadap dampak besar (program) di tataran grass root.

 

  • Keuntungan Jalinan Kerja Sama Sosial Memunculkan Kekuatan Berupa Manfaat Sosial

Sejumlah keuntungan jalinan kerjasama menimbulkan solusi bagi seumlah permasalahan sosial melalui inovasi produk dan pelayanan korporasi. Sebagai contoh, ada sejumlah entrepreuneur perempuan yang membuat tisu sanitasi murah, sehingga mampu mengakses kebutuhan wanita di pedesaan dan pinggiran kota. Atau contoh lain korporasi yang mampu mendesain mesin generator rendah emisi karbon. Jalinan kerja sama ini meningkatkan kemampuan teknik dan manajerial kedua belah pihak sehingga bisa memberi solusi pada berbagai isu. Terlebih proyek kerja sama ini bisa membantu perusahaan dan LSM dalam meningkatkan bentuk organisasi yang lebih efektif.

 

  •  Teknologi dan Inovasi Berperan Penting dalam Pemetaan Isu di Sektor Sosial dan Membangun Kemampuan Organisasi LSM

Di bidang sosial, adopsi teknologi bisa memfasilitasi perubahan operasional perusahaan menjadi lebih gesit, transparan, dan juga efisien. Teknologi dapat menangani isu yang terstruktur di bidang sosial lewat solusi yang sejalan dengan gaya perusahaan, menciptakan transparansi, dan digitalisasi alur kerja.    Pada saat bersamaan, teknologi memungkinkan korporasi untuk menyusun, mengakses, dan menganalisa data yang membantu para pengambil keputusan menyeimbangkan etika korporasi dengan keputusan dan aksi yang dilakukan.

Dampak yang dihasilkan menunjukkan beberapa struktur isu atau masalah besar di bidang sosial bisa tersolusikan lewat teknologi. Solusi ini berlaku baik untuk korporasi maupun LSM, membantu keduanya bersamaan dalam mengidentifikasi pasar. Di saat yang sama, Software as a Service (SaaS) pada program komputasi, mampu mengefisiensi langkah pelaporan dan monitoring dampak proyek program sosial secara real time.

(Joy Sharma and Sudeep Gupta/www.entreupreneurship.com)

Keywords: , , , ,

Boleh dibilang nyaris semua masyarakat Indonesia pernah makan di warung makan semisal warung tegal atau warteg. Ya, warung makan biasanya penyelamat perut sekaligus kantong di saat lapar tapi dompet tipis. Namun, sayangnya warung makan biasanya cenderung berkonotasi miring dari sisi higienitas. Proses pengolahan menu yang buruk, bahan yang cederung asal-asalan, dan buruknya sanitasi selalu diidentikkan […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]