× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

3 Cara Percepat Sistem Ekonomi Pangan Sirkular di Tengah Pandemi (1)

By Redaksi
Banyak Rak Makanan di Supermarket London Kehabisan Stok saat Pandemi. Foto : Xinhua/Liputan6.com

MajalahCSR.id – Bumi menghasilkan makanan yang lebih dari cukup untuk menghidupi manusia di atasnya. Namun, sekira 690 juta orang disebut masih kekurangan pangan dan kelaparan pada tahun lalu. Sementara menurut data PBB, diperkirakan 1,3 miliar metrik ton makanan – lebih kurang sepertiga dari produksi pangan dunia – tersia-siakan menjadi sampah setiap tahunnya.  

Dalam kacamata ekonomi, di sini terdapat permintaan yang besar. Di sisi lain, ada suplai yang demikian berlebih. Namun, sistem pangan yang kita miliki tak bisa menghubungkan keduanya.

“Sistem (yang kita miliki) harus berubah (untuk menyesuaikan),” kata Dame Ellen McArthur, ahli dunia perikanan dan keberlanjutan, menyampaikan komentarnya dalam konferensi Greenbiz Group, Circularity 20, akhir Agustus lalu.

Ekonomi pangan sirkular mungkin bisa jadi solusi. Merujuk pada Yayasan Ellen MacArthur, sistem ekonomi pangan sirkular menghasilkan pangan yang organik, menyehatkan, karena mendukung bahan alami, dan praktik teknik memperbarui tanah. Setiap hasil samping proses atau limbah dapat dijadikan pangan baru, atau sumber bio energi. Alhasil, sumber daya lokal bisa mencukupi kebutuhan masyarakatnya.

Kemunculan pandemi COVID 19 juga turut mendorong perlu adanya sistem pangan yang lebih baik. Pandemi memicu terjadinya gangguan pada rantai pasok makanan secara global.  Setidaknya peristiwa ini menjadi alarm pengingat untuk lebih serius mencari model ekonomi pangan sirkular dalam menghadapi situasi yang akan datang.

Terdapat tiga cara yang bisa mengakselerasi sirkular dalam sistem pangan kita saat ini.

  1. Mencegah limbah pangan pada level hulu (pertanian dan perkebunan) lewat kerja sama dengan petani

Situasi pandemi menjadikan para siswa tak lagi bisa menikmati makan siang gratis mereka di sekolah. Para pekerja termasuk aktivitas sekolah dilakukan dari rumah dan tak bisa makan di kantin perusahaan. Restoran tak bisa melayani banyak pelanggan karena mereka beroperasi tak normal dalam skala kecil.

Kondisi ini berarti terjadi kelangkaan pembeli produk petani. Padahal, petani tersebut tetap menanam dan memanen tanamannya. The National Sustainable Agriculture Coalition, yang mewakili perkebunan dan pertanian kecil, dalam laporannya pada Maret lalu, memproyeksikan, para petani kecil menghadapi defisit penjualan panennya hingga USD 688,7 juta.  

Situasi ini mendorong petani untuk melenyapkan hasil panennya daripada mencari cara mengirimkan atau menjual hasil panen karena ongkos yang lebih mahal. Tapi sebenarnya kondisi ini tak hanya terjadi di masa pandemi. Ini terjadi terutama saat panen raya.

Dalam situasi ini, campur tangan lembaga pengolahan limbah pangan diperlukan. Hal ini agar pangan tersebut bisa dimanfaatkan dan tak sampai dimusnahkan. Sebagai contoh FarmLink Project, mampu menyelamatkan 5 juta kilogram pangan sebelum berakhir jadi limbah lalu menyalurkannya ke bank pangan dan komunitas.

“Para petani tak ingin memusnahkan panen mereka,” tegas Aidan Reily, pendiri FarmLink Project, dalam acara konferensi Circularity 20. “Mereka sama sekali tak ingin dibayar untuk memusnahkan tanamannya. Mereka punya tanggungan asuransi, tapi tetap saja harus keluar ongkos lahan dan regulasi pajak.”

Lembaga seperti FarmLink mempertemukan 2 pihak yaitu petani yang kehilangan kontrak penjualan mereka saat pandemi dan bank pangan terdekat yang permintaan transaksinya melonjak. Lalu, lembaga tersebut menggunakan donasinya untuk mengganti ongkos panen, biaya pekerja untuk mengemas hasil panen, dan para supir yang mengantar barang dari lahan ke bank pangan.  

“Ini adalah situasi yang tepat untuk para petani,” lanjut Aidan. “Dari sinilah kami bisa masuk. Kondisi pandemi sejatinya banyak membuka mata kita terhadap upaya mengatasi persoalan ekonomi pangan sirkular.”

 – Bersambung –  

Artikel ini merupakan bagian pertama hasil alih bahasa dari tulisan Holly Secon kontributor Greenbiz.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]