× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

3 Cara Percepat Sistem Ekonomi Pangan Sirkular di Tengah Pandemi (2)

By Redaksi
Ilustrasi Sirkular Pangan. Foto : Istimewa/waste2es.com

MajalahCSR.id – Di bawah ini merupakan cara selanjutnya untuk mempercepat sirkular ekonomi dalam sistem pangan.

  1. Bekerja sama dengan pemerintah untuk menciptakan sistem ketahanan pangan lokal

Pandemi membuktikan bahwa komunitas lokal begitu penting. Di tengah perhatian pemerintah pusat yang terbagi mengatasi pandemi, pemerintah lokal menjadi harus lebih diandalkan.

Pemerintah lokal harus punya keberanian untuk mendorong warga tetao tinggal di rumah agar wabah tak kian menyebar. Di sisi lain, pemerintah pun mengupayakan agar warga tetap mendapat pasokan pangan karena di rumah dan tak bekerja.  

Zeb McLaurin, pemimpin perusahaan start up pemulihan pangan keberlanjutan di Atlanta, Goodr, mengatakan, perusahaannya terus mengupayakan kerja sama dengan pemerintah lokal dalam menghadapi pandemi. Kerja sama tersebut bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan sekuat mungkin dalam skala lokal.

Keberadaan petani lokal untuk komunitas di sekelilingnya amat menguntungkan. Hal ini bisa mengurangi waktu pengiriman, yang menyebabkan bahan pangan dalam kondisi masih segar, dan juga menambah nilai jual produknya ke masyarakat.

McLaurin menjelaskan, era pandemi membuka kesempatan bagi Goodr untuk melakukan kontrak kerja sama dengan pemerintah kota untuk memastikan ketersediaan stok pangan warga. “Kami selalu ingin membantu pemerintah,” ucapnya. “ Persiapan akhirnya menemui kesempatan saat COVID menerjang.”

McLaurin menambahkan, perusahaannya juga mencoba menjalin kerja sama lain dengan pemerintah lokal terkait sistem pengomposan – seperti mendirikan pencacah kompos kedap udara – yang merupakan bagian dari manajemen limbah dalam ekonomi pangan sirkular.

 

  1. Mendorong dan memanfaatkan teknologi yang berkaitan

Mengukur atau memastikan praktik sirkular pada sistem pangan bukan hal mudah. Tapi, kabar baiknya, teknologi baru yang dikenalkan pada konferensi Circular 20 bisa membantu permasalahan ini.

Teknologi seperti blockchain dapat dimanfaatkan untuk transparansi rantai suplai, sehingga penentu kebijakan dan konsumen mengetahui darimana makanan mereka berasal termasuk praktik regeneratif (organik) untuk pengelolaan pangan.  

Tekologi lainnya adalah desain labeling pengingat cerdas yang memperlihatkan kapan makanan masih layak dikonsumsi agar tak sia-sia terbuang ke tempat sampah. Salah satu perusahaan start up teknologi yang memperkenalkan teknologi cerdas ini adalah Mimica. Mereka menciptakan label makanan yang disebut Mimica Touch. Konsumen hanya perlu menyentuh label tersebut. Jika terasa mulus, dipastikan makanan yang berlabel masih layak makan. Sebaliknya, jika labelnya terasa kasar, makanan sudah tak layak konsumsi.

“Masa kadaluarsa yang seringkali tercetak di atas makanan dibuat untuk kondisi terburuk. Kenyataannya, kita masih sedikit bisa memanfaatkan makanannya. Tanggal yang tertera mempermudah perlindungan konsumen terhadap kasus yang langka dalam rantai pasok atau di rumah kita,” kata pendiri Mimica, Solveiga Pakštaitė.

Selama masa pandemi, warga di seluruh dunia tak bisa pergi sesering mungkin (seperti sebelum pandemi) ke swalayan atau pasar bahan makanan, namun juga tetap butuh sehat, produk segar. Teknologi baru ini dapat menambah masa layak konsumsi makanan, sekaligus membantu para retailer makanan dan bahan pangan.  

“Dengan menambah masa konsumsi hanya dua hari, kami dapat melihat penurunan jumlah limbah pangan hingga setengahnya di toko kami, bahkan lebih sedikit dari limbah pangan di rumah tangga, sehingga penjuaan meningkat karena masa konsumsi bertambah,” kata Solveiga. “Terutama produk jus buah dan sayur, serta daging,” tambahnya.

Secara keseluruhan, sistem pangan sirkular yang makin maju, bisa menolong perusahaan dan juga konsumen.

 

Artikel ini merupakan bagian terakhir hasil alih bahasa dari tulisan Holly Secon kontributor Greenbiz.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]