× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

5 Prediksi Pasar Korporasi Global Terkait Energi Terbarukan di 2021 (Bagian Terakhir)

By Redaksi
Ilustrasi Energi Terbarukan. Foto : Istimewa/cet.ctu.edu.vn

Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari artikel berjudul “5 Prediksi Pasar Korporasi Global Terkait Energi Terbarukan di 2021” yang dikutip dari Greenbiz.

    3. Lebih banyak perusahaan berkomitmen mengurangi Scope 3 emissions

Pengertian scope 3 emissions atau ruang lingkup emisi ketiga diakibatkan oleh proses produksi dan pemakaian produk yang seringnya jadi biang kerok emisi terbesar bagi korporasi. Sebagai contoh, scope 3 emissions dari operasional pabrik adalah 75% pemicu jejak karbon bagi perusahaan Apple. Tidak seperti Scope 1 dan 2 emissions, dimana perusahaan dapat mengurangi dampak melalui efisiensi energi yang terukur dan pengadaan energi terbarukan, scope 3 emissions di luar kontrol perusahaan. Alhasil, sulit bagi mereka untuk menekan dampaknya. Tapi hal ini tak membuat para korporasi itu berhenti berusaha.

Apple adalah salah satunya. Perusahaan gawai terkemuka ini punya target mengganti daya listrik di seluruh pabrik dan rantai pasoknya dengan sumber terbarukan pada 2030. Melalui program Energi Bersih Supplier Apple, 71 pabrik di 17 negara berkomitmen memakai seratus persen  energi berkelanjutan untuk proses produksi. Hasilnya, pada Agustus kemarin, Taiwan Semiconductor Manufactring Company, salah satu supplier Apple, menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) atau perjanjian pembelian energi korporasi. Isinya kesepakatan 2 tahun pembelian energi yang berasal dari 920 megawatt listrik tenaga angin di Taiwan.

Amazon, Facebook, Google dan Microsoft juga berkomitmen mengurangi emisi di rantai pasoknya. Gerakan ini seakan efek bola salju yang terus membesar di jaringan mereka. Suplier mereka di Eropa dan Asia mengubah kebijakan energinya menjadi berkelanjutan, mentransformasi pasar energi global. Menurut BloombergNEF, semester pertama 2020 memperlihatkan tingginya volume procurement (untuk energi terbarukan) di Eropa, Australia, dan Taiwan dibanding tahun lalu.

    4. Penyimpan energi menjadi sektor tambahan untuk portfolio PPA

Pada 2021, korporasi tak lagi menandatangani PPA untuk proyek tenaga surya dan angin, mereka juga memasukkan sektor proyek penyimpanan energi. LevelTen sudah membantu kliennya dalam perjanjian penyimpanan energi di tahun ini, dan diperkirakan jumlahnya meningkat pada 2021.

Ada beberapa alasan untuk soal ini:

Secara ekonomi sangat menarik. Industri sudah menyesuaikan perihal budget poyek pengembangan energi yang memberatkan untuk dihentikan, dan proyek penyimpanan energi menjadi pilihan. Sebagai tambahan, proyek penyimpanan energi punya keunikkan soal biaya; bisa dipakai sendiri saat tagihan listrik naik dan dijual saat tagihan listrik meninggi.

Korporasi seperti Google yang menginginkan penyesuaian antara penggunaan energi dengan ketersediaan energi sering menginvestasi portfolio proyek tenaga angin dan surya untuk meningkatkan durasi jam. Ini menyebabkan pasokan energi hijau terbarukan bisa terpenuhi dalam satu hari. Dengan perangkat penyimpan energi, durasi pasokannya dapat ditambah, memastikan energi bersih ini tetap tersedia meskipun angin tak bertiup atau matahari tidak bersinar. Dengan kata lain, penyimpan energi ini secara signifikan mengurangi emisi.

Meskipun Facebook belum mempublikasikan kontrak penyimpananenergi, namun mereka berinvestasi dalam teknologinya. Facebook dan Carnegie Mellon Univesity belum lama ini mengumumkan kerja sama memakai kecerdasan buatan untuk menemukan “electrocatalyst” yang bisa menyimpan pasokan listrik dari sumber terbarukan.

    5. Kebutuhan yang meningkat akan menimbulkan inovasi

Banyak dari “perusahaan teknologi” sangat ambisius dalam target keberlanjutan di tahun 2030. Sementara satu dekade terasa lama, akan membutuhkan bertahun-tahun untuk pengembangan, membiayai dan membangun proyek energi terbarukan.

Pada saat  yang sama, perusahaan-perusahaan ini harus menjaga pertumbuhan kebutuhan energi yang konstan. Hal ini tidak hanya cukup dengan memenuhi kebutuhan energi mereka yang sekarang. Mereka juga perlu menyiapkan kebutuhan mereka yang akan datang.  

Korporasi sedang melawan waktu dan sulit untuk secepatnya mengambil keputusan tepat mengenai hal tersebut. Proses PPA saat ini pun dianggap terlalu manual dan memakan waktu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Diperkirakan solusi situasi ini akan muncul di 2021, baik dari perusahaan raksasa teknologi itu atau dari partisipan pasar untuk mempercepat proses.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]