× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Yuk Nabung Saham

By Redaksi
Dok. AI

Ciloto, Bogor – Majalahcsr. Menabung untuk masa depan adalah salah satu cara untuk menyiapkan diri menjadi lebih baik. Cara konvensional yang biasanya dilakukan adalah menyimpan uang di rumah atau di bank.

Dalam 10 tahun terakhir rata-rata inflasi mencapai 5,85%, sedangkan bunga tabungan di bank rata-rata hanya 2,42% per tahun. Artinya uang kita terpotong 3,43%. Kenapa tidak mencoba cara yang kekinian yang mempunyai imbal balik yang lumayan?

Satu-satunya cara untuk melawan inflasi adalah dengan investasi, menabung dengan cara yang kekinian. Bentuk investasi sendiri bisa banyak cara, misalnya mendirikan usaha, beli properti atau emas, termasuk investasi saham atau reksadana.

Hanya dengan Rp100 ribu perbulan, setiap orang bisa mendaftar dan membeli salah satu diantara 563 perusahaan terbuka yang ada di PT Bursa Efek Indonesia. Return investasi saham dalam 10 tahun per desember 2016 mencapai 193,36%.

Dalam 10 tahun terakhir, hampir 70% dari saham yang tercatat di bursa mengalami kenaikan harga hingga 10% pertahun. Investasi saham ini memang dapat untung yang maksimal kalau disimpan dalam waktu yang panjang, karena kalau sebentar akan tekena resiko dari naik turunnya harga yang sifatnya temporer.

Kuncinya, jika rutin beli saham setiap bulan, hasilnya akan sangat luar biasa karena compund interest. Compound interest adalah bunga berbunga atau keuntungan yang didapatkan akan ditambahkan ke modal awal terus menerus, sehingga keuntungan yang dihasilkan pada tahun berikutnya akan lebih besar lagi.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ini adalah satu-satunya perusahaan, tempat untuk bertransaksi saham dan dilindungi oleh Undang-Undang. Dengan kata lain, perusahaan ini aman untuk dijadikan tempat bertransaksi.

Namun jumlah investor yang masih sedikit membuat BEI memberikan edukasi mengenai pasar modal. Salah satunya adalah dengan kampanye Yuk Nabung Saham. Kampanye ini dilakukan pada tahun 2015, dilanjutkan dengan inklusi keuangan pada tahun 2016.
“Semua investasi beresiko, kenali dulu resikonya kemudian berinvestasi,” ujar Specialist investor education and development strategy investor development BEI, Kemas Rumaiyar dalam Workshop Wartawan Pasar Modal 2017 di Bogor, rabu (8/9).

Hasilnya sejak 2 tahun dicanangkan, ada penambahan investor dari 7 orang per hari menjadi 20 orang per hari. Otomatis total investor dengan Single Investor Identification (SID) naik dari 400 ribuan pada 2014 menjadi 613 ribu atau naik sekitar 200 ribuan sejak kampanye diluncurkan.

Melihat hal ini, banyak calon investor yang sebenarnya berkeinginan untuk berinvestasi di saham namun masih ragu, mungkin karena kurang paham. Sehingga setelah ada upaya dari BEI, banyak calon investor yang akhirnya bergabung menjadi investor.

BEI juga gencar membuka kantor perwakilan dan galeri investasi di Indonesia. Hingga saat ini ada 27 kantor perwakilan dan 313 galeri investasi di beberapa universitas di Indonesia.
Tapi jika masih belum paham mengenai investasi di saham, bisa juga mengikuti kelas pasar modal di BEI.

[contact-form-7 404 "Not Found"]