× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Pembiayaan Kesehatan untuk Penderita Skizofrenia

By Redaksi

Jakarta – Majalahcsr. Lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa di Negara-negara berkembang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Laporan yang dikeluarkan oleh WHO, Mental Health Gap Action Programme (mhGAP) pada tahun 2008 juga menjelaskan bahwa sepertiga pasien dengan Skizofrenia dan lebih dari setengahnya menderita depresi, mengkonsumsi alkohol dan menyalahgunakan narkoba, tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dalam setahun.

Tentunya hal ini tidak bisa dianggap remeh. Peran semua pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mengubah perilaku Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan keluarga mereka.

Gangguan jiwa emosional yang ditunjukkan oleh gejala depresi kecemasan pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan untuk gangguan jiwa berat seperti Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau 1,7 per 1000 penduduk.

Jadi orang Indonesia banyak yang depresi? Lihat dulu laporan ini. Secara global, menurut data WHO pada tahun 206, terdapat 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang dengan Skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

Secara global, mayoritas dari mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa di seluruh dunia tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental berkualitas tinggi. Stigma, kurangnya sumber daya manusia, model pemberian layanan yang terfragmentasi, dan kurangnya kapasitas penelitian untuk implementasi dan perubahan kebijakan berkontribusi pada kesenjangan perawatan kesehatan jiwa saat ini.

Masih menurut laporan WHO tentang Investing in Mental Health pada tahun 2013 yang mengungkapkan bahwa banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalokasikan kurang dari 2% atau bahkan 1% dari anggaran kesehatan untuk perawatan dan pencegahan gangguan jiwa/mental. Berangkat dari situ, para ahli kesehatan jiwa terkemuka dari wilayah Asia Tenggara berkumpul bersama dalam Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di Jakarta, pada tanggal 30 – 31 Agustus 2018.

Diselenggarakan oleh Johnson & Johnson, lebih dari 150 peserta yang berasal dari kalangan dari bisnis, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, akademisi dan media akan berpartisipasi dalam forum yang bertemakan ‘Mewujudkan kepedulian bersama untuk pengobatan Skizofrenia’.

Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia, Lakish Hatalkar menyatakan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap tantangan kesehatan jiwa (mental). “Kondisi fisik dan mental yang sehat adalah elemen utama yang membentuk manusia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial dan ekonomi,” tukasnya.

Selama pertemuan dua hari di Jakarta tersebut, para ahli kesehatan jiwa akan berusaha mengembangkan pedoman dan panduan bersama yang akan menjadi langkah pertama dalam mengembangkan model manajemen pembiayaan yang ideal untuk layanan Skizofrenia di kawasan Asia Tenggara serta sistem asuransi nasional dan swasta untuk dapat memasukkan pembiayaan kesehatan jiwa dipembiayaan samping kesehatan fisik. Para ahli juga akan saling berbagi praktik terbaik dan pembelajaran dari negara masing-masing mengenai manajemen Skizofrenia dan implementasinya dalam komunitas.

Senior Director of Market Access, Johnson & Johnson SEA Chiun-Fang Chiou yang turut hadir dalam forum ini mengatakan bahwa program yang komprehensif diperlukan untuk membangun sistem layanan kesehatan, yang terdiri dari pengembangan kebijakan dan kapasitas tambahan sumber daya manusia, mekanisme pembiayaan, perbaikan infrastruktur serta sistem pemantauan dan evaluasi. “Kami senang dapat memfasilitasi diskusi dalam forum ini dan membuka jalan untuk menemukan solusi yang pada akhirnya akan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien dalam hal manajemen penyakit mereka, akses pengobatan dan proses reintegrasi ke dalam masyarakat.” Paparnya.

 

Skizofrenia

Berdasarkan definisi standar WHO, Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang parah, ditandai dengan banyaknya gangguan dalam berpikir, mempengaruhi bahasa, persepsi, dan rasa kesadaran diri. Seringkali termasuk didalamnya adalah pengalaman psikotik, seperti mendengar suara atau delusi. Hal ini dapat merusak fungsi diri melalui hilangnya kemampuan yang diperoleh untuk mendapatkan mata pencaharian, atau gangguan dalam belajar. Pengendalian gangguan jiwa ini membutuhkan upaya yang komprehensif dan berkelanjutan.

Skizofrenia di banyak negara pada saat ini masih terhalang oleh banyak stigma negatif yang melekat pada ‘orang-orang dengan Skizofrenia’ dan keluarga mereka. Akibatnya, sejumlah kasus Skizofrenia tidak pernah dilaporkan dan tidak mendapatkan tindak lanjut secara medis. Karena itu, WHO terus menyerukan kepada para pihak pemerintah, donor dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan jiwa untuk segera berupaya meningkatkan pendanaan dan layanan kesehatan jiwa dasar untuk menutup kesenjangan yang sangat besar ini.

Menurut WHO, terdapat pengobatan yang efektif untuk Skizofrenia dan orang yang terkena dampaknya dapat menjalani kehidupan yang produktif dan terintegrasi dalam masyarakat. Penyakit jiwa tersebut sebenarnya dapat diobati dan dikendalikan. Kuncinya adalah dengan cara memiliki sistem pendukung yang kuat dan mendapatkan perawatan yang tepat. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar orang dengan Skizofrenia dapat memiliki pekerjaan yang layak dan menjadi produktif dan bahkan mampu memiliki aktivitas lain yang bermakna, menjadi bagian dari komunitas, serta menikmati hidup.

Sebagai perusahaan yang sangat berkomitmen untuk mendukung kesehatan masyarakat di seluruh dunia, Johnson & Johnson memiliki komitmen untuk terlibat dengan masyarakat Asia Tenggara dalam menangani Skizofrenia. Melalui kampanye Lighting the Hope for Schizophrenia yang diluncurkan sejak tahun 2013, Johnson & Johnson telah bekerja sama dengan para profesional, asosiasi kesehatan, dan komunitas terkait.

Kampanye ini bertujuan untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sejumlah gejala Skizofrenia dan pengobatannya sehingga dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita Skizofrenia dan keluarganya. Kampanye Lighting the Hope for Schizophrenia juga berfokus pada bagaimana caranya memberikan dukungan bagi orang-orang dengan Skizofrenia agar mendapatkan kembali hak-hak mereka untuk hidup produktif dan terhormat di masyarakat.

Keywords: , , ,
[contact-form-7 404 "Not Found"]