× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Melestarian Batik Bantengan dari Usia Dini

By Redaksi
Dok. Astra Internasional

Jakarta – Majalahcsr. Prihatin dengan kelestarian batik bantengan khas tempat tinggalnya di Batu Malang, Anjani Sekar Arum mulai membatik. Kuliahnya di jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UNM) bukanlah satu-satunya tempat belajar.

Jurusan Kriya banyak ditakuti mahasiswa lain karena tidak ada dosennya, sehingga membuat Anjani pergi ke Yogyakarta dan Solo untuk mendapatkan ilmu batik. Seperti yang dikutip dari Kompas.com, dirinya mengeluarkan uang sebesar Rp6 juta untuk mempelajari teknik pewarnaan.

Singkat kata, Anjani berhasil membuat batik dan akhirnya mengangkat tema Batik Bantengan sebagai skripsinya.

Anjani kemudian menggelar pameran batik tunggal sebagai nazarnya setelah lulus kuliah. Pameran tunggal tersebut bermodal 48 batik yang dikerjakan dengan susah payah. Istri walikota saat itu, Dewanti Rumpoko yang membuka pameran batik bantengan Anjani. Batik Anjani rupanya membuat kagum Dewanti dan mengajaknya ikut pameran di Praha, Ceko.

Banyaknya batik yang harus disiapkan membuat Ibu satu Putra ini memutar otak. Dirinya kemudian mengajak satu anak di dekat rumahnya, Aliya untuk ikut membatik. Prestasi Aliya mendorong teman-temannya untuk belajar batik, dan kuota untuk pameran di Praha terpenuhi.

Dok. Twitter

Setelah sukses dengan pamerannya di Ceko, Anjani di panggil lagi oleh Walikota untuk ditanya rencananya kedepan. Dukungan pun datang ketika cita-citanya adalah semua sekolah mempunyai alat membatik gratis. Walikota memerintahkan agar semua sekolah dipasok alat membatik untuk digunakan sebagai sarana belajar batik.

Siapa yang menjadi gurunya? Ternyata anak-anak didik Anjani, yaitu Aliya dan teman-teman menjadi mentor di masing-masing sekolah. Seperti magnet, sekarang sudah ada 200-an anak yang belajar di sanggarnya.

Selain membantu kelestarian batik Bantengan khas Batu Malang melalui karya membatik anak didiknya, hal ini ternyata juga membantu biaya sekolah dari anak-anak tersebut. Masing-masing anak memang dibebaskan untuk berkreasi dan hasilnya pun banyak yang suka, termasuk wisatawan mancanegara.

Bahkan produk gagal seperti warna yang menyatu banyak diburu wisatawan. Harganya beragam, dari ratusan ribu hingga jutaan. “Penghasilan anak-anak paling kecil Rp300 ribu perbulan,” ujar Anjani saat pembukaan KICK-OFF SATU Indonesia Awards di Jakarta.

Hasil penjualan batik tersebut dipotong Anjani sebesar 10% untuk pajak, membeli packaging, membayar penjaga galeri, dan mengganti peralatan yang rusak. Namun untuk bahan yang diperlukan selama membatik, termasuk kain memang disediakan oleh Anjani, sehingga pemotongan dilakukan untuk mengganti bahan yang dipakai.

Wanita kelahiran 12 April 1991 ini tidak serta merta memberikan penghasilan yang didapatkan oleh anak didiknya, dirinya akan menabungkan untuk digunakan sesuai keperluan dan keinginan anak-anak. “Kalau tidak terjual, anak-anak nggak usah mengganti biaya,” ujar Anjani.

Kerja keras Anjani mendapatkan penghargaan. Salah satunya pemenang Satu Indonesia Award 2017 dari PT Astra International, Tbk. Ia bersama tujuh pemuda lainnya terpilih dari 3.234 pemuda menginspirasi lainnya di Indonesia. Anjani juga berhasil mencuri perhatian dengan mendapatkan  apresiasi favorit pilihan publik.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, peraih Satu Indonesia Award, termasuk Anjani, memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar tanpa memikirkan keuntungan pribadi yang akan diterimanya.

Dok. Astra Internasional

Untuk itu, Astra mengapresiasi dan akan mendampingi pengembangan kegiatan mereka. Sebab tidak mudah menemukan mutiara bangsa yang terpendam di dalam lumpur.

Dengan semangat yang kuat, Anjani berhasil melestarikan batik bantengan dan mengajak generasi penerus untuk ikut serta. Meskipun tidak berasal dari keluarga yang kaya, namun Anjani memiliki pemikiran yang kreatif sehingga keinginannya tercapai. Bagaimana dengan anda?

 

 

[contact-form-7 404 "Not Found"]