× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Indonesia ranking 101 Tempat Tumbuh Kembang Anak

By Redaksi
Dok. Sayangi Tunas Cilik

Jakarta – Majalahcsr. Indonesia berada tepat pada 1 ranking di luar 100 negara terbaik untuk tempat tumbuh kembang anak, menurut suatu laporan global yang baru diluncurkan oleh Save the Children.  Dalam peringkat ini, Indonesia berada di belakang Singapura, Malaysia, dan Thailand, namun masih lebih baik daripada Myanmar, Kamboja, dan Laos. 

Diluncurkan bertepatan dengan Hari Anak Internasional pada senin (5/6), laporan yang berjudul Stolen Childhoods ini melakukan pemeringkatan negara-negara berdasarkan serangkaian indikator terkait masa kanak-kanak, di mana Indonesia terindikasi memiliki 14,3% anak usia sekolah yang tak mengakses pendidikan dasar dan menengah. 

Laporan tersebut memuat indeks dari 172 negara dengan Indonesia di peringkat 101, di atas Myanmar (112), Kamboja (117), Laos (130), namun di bawah Singapura (33), Malaysia (65), dan Thailand (84).  Norwegia dan Slovenia menduduki posisi puncak indeks, yang diikuti oleh Finlandia, dengan Niger di peringkat terakhir. 

“Peringkat Indonesia tak terlalu mengejutkan mengingat tingkat jumlah anak yang tak bersekolah di negara ini, terutama pada usia SMP sebagai bagian lanjutan dari wajib belajar 9 tahun,” ungkap Ketua Pengurus Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC), Selina Sumbung, sebagai mitra implementasi Save the Children di Indonesia.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah di Indonesia adalah SD 96.70%, SMP 77.82%, dan SMA 59.71%.  Sementara itu, Data UNICEF tahun 2016 menyebut bahwa sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan yakni 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Indonesia jelas telah menunjukkan kemajuan ekonomi dan pembangunan di tahun-tahun belakangan, namun kemiskinan masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan, terutama mengingat bahwa anak menjadi kelompok yang paling rentan, dengan putus sekolah sebagai keputusan yang diambil ketika keluarganya tak mampu menanggung biaya jenjang pendidikan lanjutan,” lanjut Selina. 

Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga tak mampu, sehingga anak terpaksa harus bekerja di usia dini untuk membantu ekonomi keluarga.  Selain itu, sebagian lainnya berhenti sekolah karena mengalami diskriminasi akibat kondisi fisik, dan penyebab lain seperti pernikahan dini.

Sejalan dengan kampanye global Every Last Child, Save the Children ikut menyerukan pentingnya investasi lebih besar pada aktivitas-aktivitas yang mencegah kejadian putus sekolah.  Mengingat, memiliki hidup dan pendidikan yang aman dan sehat adalah hak setiap anak, di mana pun mereka berada.  Di Indonesia, Save The Children bekerja untuk memastikan bahwa hak ini dibela.

“Selain itu, Yayasan Sayangi Tunas Cilik juga melakukan suatu riset pemetaan anak-anak yang tereksklusi karena berbagai penyebab, yang sangat erat hubungannya dengan kemiskinan dan putus sekolah.  Pemetaan ini akan memberikan konteks dan landasan untuk merancang kebijakan yang tepat, sehingga Indonesia dapat berkontribusi untuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) di tahun 20130,” lanjutnya.

 

 

 

Redaksi

[contact-form-7 404 "Not Found"]