× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Biar Manfaat Sawit Naik 300%, Inovasi jadi Harga Mati

By Redaksi
Dok. Indonesiakita.or.id

Jakarta – Majalahcsr.    Industri Sawit Indonesia memerlukan inovasi-inovasi berkesinambungan untuk mewujudkan industri sawit bekelanjutan. Saat ini manfaat bisnis/ekonomi, manfaat sosial, dan manfaat ekologis yang dinikmati dari industri sawit masih sekitar 30 persen dari potensinya.

Keuntungan pelaku sawit, manfaat bagi masyarakat, devisa negara, penerimaan pajak, manfaat lingkungan termasuk Dana Sawit yang terhimpun, masih bisa ditingkatkan 300 persen kedepan. Seperti yang dilansir oleh indonesiakita.or.id, caranya adalah melalui Riset-inovasi yang berkelanjutan.

Kesadaran akan pentingnya riset-inovasi industri sawit nasional inilah yang tertuang dalam UU No. 39 tahun 2014 tentang perkebunan yang ditetapkan secara tegas bahwa Dana Sawit  salah satunya diperuntukkan pada riset. BPDKS sebagai pengelola Dana Sawit memang sudah menyalurkan dana riset dalam dua tahun ini. Namun dana tersebut terlalu sedikit untuk riset hanya sekitar 0,3 persen dari Dana Sawit sekitar Rp 15 triliun setiap tahun.

BPDKS perlu meningkatkan alokasi Dana Sawit Untuk riset di perguruan tinggi maupun lembaga riset lain. Secara bertahap BPDKS perlu mengalokasikan Dana Sawit untuk riset setidaknya 10 persen.

Kata kunci untuk melakukan perbaikan menyeluruh tersebut adalah inovasi-inovasi baru yang diperoleh dari riset yang berkesinambungan. Varietas baru yang mampu menyerap lebih banyak karbon dari udara dan menghasilkan minyak yang lebih tinggi merupakan inovasi. Produk pupuk sawit yang makin efektif diserap dan ramah lingkungan sehingga biaya pupuk makin rendah juga suatu inovasi.

Kultur teknis konservasi tanah dan air yang memperbaiki kesuburan tanah untuk menopang produktivitas berkelanjutan juga diperlukan. Pengolahan biomas limbah PKS seperti tandan kosong, limbah cair untuk hasilkan biogas/biolistrik, bioethanol, bioplastik juga proses inovasi.  Pengolahan minyak sawit menjadi produk-produk hilir baik produk oleopangan complex, biofuel, biopelumas, biosurfaktan, bioplastik, dll memerlukan riset untuk inovasi. Dan banyak lagi area inovasi-inovasi lain baik dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan yang diperlukan untuk mewujudkan industri sawit bekelanjutan.

Industri sawit berkelanjutan yang dimaknai sebagai industri yang menguntungkan secara bisnis, menghasilkan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat dan menyumbang pada pelestarian lingkungan. Sawit yang hanya ramah lingkungan, tetapi tidak ramah sosial ekonomi dan tidak ramah bisnis, tidak akan berkelanjutan. Demikian juga sawit yang ramah secara bisnis dan sosial ekonomi tapi tidak ramah lingkungan, juga tidak berkelanjutan.

Ketiga hal tersebut yakni ramah bisnis, ramah sosial ekonomi dan ramah lingkungan menjadi satu kesatuan dan secara sinergis menghasilkan industri sawit berkelanjutan.

Sawit yang berkelanjutan yang demikian tidak jatuh sendiri dari langit. Juga tidak otomatis terwujud dengan kebijakan Pemerintah  saja atau dengan sertifikasi ISPO/RSPO saja. Sawit berkelanjutan yang demikian merupakan hasil proses perbaikan yang terus menerus (continues improvement) yang menyeluruh. Mulai dari perbaikan varietas, pupuk, alat-mesin, kultur teknis budidaya dan pemanenan, pengolahan di PKS untuk meningkatkan produksi minyak hingga 8-10 ton minyak per hektar dengan kualitas jasa lingkungan yang lebih baik. Juga  pengembangan produk-produk hilir untuk memperluas pasar sekaligus menyediakan aneka produk berbasis sawit yang dibutuhkan masyarakat. Industri sawit Indonesia ke depan berpeluang meraih devisa US$75 milyar setiap tahun.

 

Redaksi

[contact-form-7 404 "Not Found"]